History

Rabu, 03 November 2021

5 Gempa Bumi Terdahsyat, Indonesia Sudah Mengalaminya

5 Gempa Bumi Terdahsyat, Indonesia Sudah Mengalaminya

CMBC Indonesia - Gempa Bumi dikenal sebagai salah satu bencana alam yang paling menakutkan dan merusak di dunia. Kerak Bumi terdiri dari bagian-bagian yang berbeda yang dikenal sebagai lempeng tektonik.

Gempa bergerak bersama seperti gergaji ukir dan terus bergerak dengan kecepatan beberapa sentimeter per tahun, ke arah dan kecepatan yang berbeda.

Menjadi hal yang biasa jika lempengan-lempengan itu meluncur melewati satu sama lain, saling bertabrakan dan menjauh satu sama lain.

Saat pelat terus bergerak ke arah yang berbeda dalam jangka waktu yang lama, gesekan menyebabkan energi menumpuk.

Akhirnya menjadi begitu besar sehingga energi dilepaskan yang menciptakan gelombang kejut atau gempa Bumi. Jika gempa berada di bawah laut, dapat menciptakan serangkaian gelombang besar yang disebut tsunami.

Gempa Bumi terjadi di seluruh dunia setiap hari dengan beberapa yang sangat kecil, mereka hanya dapat dideteksi menggunakan peralatan khusus. Sementara yang lainnya bisa cukup kuat untuk merusak dan menghancurkan kota.

Besarnya gempa seperti itu akan diukur pada skala magnitudo Richter. Berikut daftar gempa Bumi terdahsyat sepanjang sejarah, di mana salah satunya terjadi di Indonesia, seperti dikutip VIVA Tekno dari situs The Sun, Rabu, 3 November 2021:

Gempa Kamchatka, Rusia (1952)

Pada 4 November 1952, pukul 16:58 GMT, gempa bumi besar terjadi di lepas pantai Semenanjung Kamchatka, di timur Rusia. Kekuatannya mencapai 9,0 skala Richter, menghasilkan tsunami besar yang merusak Pasifik dengan gelombang hingga 15 meter. Gempa menyebabkan 10.000-15.000 orang tewas.

Gempa Tohoku (2011)

Pada 11 Maret 2011, pukul 14:46 GMT, terjadi gempa bumi besar di bawah laut di lepas pantai Jepang. Gempa 9,1 SR itu memicu tsunami, menghasilkan gelombang hingga 40,5 meter.

Gelombang menyebar ke daratan sejauh 6 mil dan menyebabkan kerusakan struktural yang luas dan parah di timur laut Jepang. Pada 10 Maret 2015, diumumkan bahwa korban meninggal yang dikonfirmasi sebanyak 15.894, 6.152 luka-luka, dan 2.562 orang hilang.

Gempa Sumatera (2004)

Gempa Sumatera adalah salah satu bencana alam paling mematikan dalam sejarah. Peristiwa ini juga dikenal sebagai gempa bumi Samudra Hindia 2004, pecah di lepas pantai barat Sumatera atau Banda Aceh.

Ini menciptakan panjang patahan terbesar dari setiap gempa yang tercatat, menghasilkan tsunami dengan gelombang setinggi 30 meter. Itu menyebabkan seluruh planet bergetar sebanyak 1 centimeter dan menyebabkan 250 juta jiwa mengalami kematian.

Gempa besar Alaska (1964)

Gempa Bumi Besar Alaska terjadi pada 1964 dikenal sebagai gempa Jumat Agung, terjadi pada pukul 17:36 waktu setempat, pada Jumat Agung, 27 Maret di wilayah Prince William Sound di Alaska, Amerika Serikat.

Itu berlangsung sekitar 4,5 menit dan merupakan gempa paling kuat yang tercatat dalam sejarah Amerika Serikat. Gempa 9,2 SR itu memicu tsunami yang dirasakan di Alaska, Oregon dan California, AS.

Gempa Valdivia (1960)

Ini juga dikenal sebagai gempa besar Chili yang merupakan gempa paling kuat yang pernah tercatat berkekuatan 9,5 skala Richter. Gempa Bumi terjadi pada 22 Mei pukul 19:11 GMT sekitar 100 mil di lepas pantai Chili.

Itu berlangsung sekitar 10 menit dan memicu tsunami besar dengan gelombang hingga 25 meter. Jumlah total korban jiwa akibat gempa Bumi dan tsunami diperkirakan antara 1.000-6.000 jiwa dengan sekitar 3.000 orang terluka.[viva]

Sabtu, 23 Oktober 2021

Kisah Asmara Orangtua Sukarno di Bali, Ternyata Kawin Lari

Kisah Asmara Orangtua Sukarno di Bali, Ternyata Kawin Lari

CMBC Indonesia - KISAH ini diceritakan langsung oleh ibunya kepada Soekarno. Karena tak mendapat restu dari keluarga, ia kawin lari. 

Semasa muda, Idayu Nyoman Rai (ibu Soekarno) seorang gadis Pura di daerah Singaraja, Bali. Saban hari, tiap pagi dan petang, ia membersihkan rumah ibadat itu.  

Ia betul-betul menikmati ketenangan itu. Suatu hari, datanglah seorang pemuda duduk mengaso di lubuk persis di depan Pura. 

Karena teduhnya suasana di lubuk, si pemuda kecanduan. Apalagi pemandangannya asri, khas Bali. Semenjak itu, tiap sore sepulang mengajar, dia mengaso di sana. Candunya kian bertambah-tambah ketika suatu hari melihat Idayu Nyoman Rai di dalam Pura.  

"Setelah sore demi sore berlalu, ia menegur ibu sedikit. Ibu menjawab," Soekarno menceritakan itu dalam buku Bung Karno Penyambung Lidah Rakyat Indonesia karya Cindy Adams.  

Pemuda itu bernama Raden Sukemi Sosrodihardjo. Berasal dari Jawa. Keturunan Kediri. Bekerja sebagai guru Sekolah Rendah Gubernemen di Singaraja. 

"Segera ia merasa tertarik kepada ibu dan ibu kepadanya," kenang Si Bung. "Seperti biasanya menurut adat, bepak mendatangi orang tua ibu untuk meminta ibu secara beradat." 

Rupanya pinta tak berlaku. Keluarga Idayu Nyoman Rai yang notabene dari kaum bangsawan tegas mengatakan, "tidak bisa. Engkau berasal dari Jawa dan engkau beragama Islam. Tidak, sekali-kali tidak!"

Apa boleh buat. Muda-mudi itu sudah terlanjur saling cinta. "Satu-satunya jalan kawin lari. Ini pun bagi adat Bali ada tata-caranya," ungkap Soekarno, menceritakan lagi kisah cinta orang tuanya.

Di malam perkawinan, keduanya bermalam di rumah seorang kawan. Lalu dikirim utusan ke rumah orang tua si gadis guna memberitahu bahwa mereka sudah melangsungkan perkawinan. 

Ini di Bali istilahnya pawiwahan. Gandarwa wiwaha. Di beberapa daerah semisal di Lampung dan Lombok, budaya kawin lari juga ada dalam istilah berbeda. 

Idayu dan Raden Sukemi bermalam di rumah seorang kepala polisi. Ketika keluarga Idayu datang menjemput, kepala polisi yang merupakan kawan dekat Raden Sukemi itu enggan melepaskan dengan alasan kedua merpati itu berada dalam perlindungannya.

"Mereka pun dihadapkan ke pengadilan. Ibu ditanya, apakah lelaki ini memaksamu, bertentangan dengan kemauanmu sendiri? Dan ibu menjawab, tidak. Tidak, saya mencintainya dan melarikan diri atas kemauan saya sendiri."

Tak ada lagi perkara. Perkawinan diteruskan. Pun demikian, pengadilan mendenda Idayu 25 ringgit. 

Pendek kisah, karena merasa tak disukai orang Bali, Raden Sukemi mengajukan permohonan kepada Departemen Pengajaran untuk dipindahkan ke Jawa. 

Ia pun dikirim ke Surabaya. Istrinya dibawa serta. Di kota pelabuhan itulah Soekarno lahir saat fajar menyingsing. Tanggal 6 bulan 6, 1901--permulaan abad 20. 

"Nenekku memberiku kebudayaan Jawa dan mistik. Dari bapak datang Theosofisme dan Islamisme. Dari ibu Hinduisme dan Buddhisme. Sarinah (pengasuh Soekarno--red) memberiku humanisme," kenangnya. [jpnn]

Senin, 18 Oktober 2021

17 Oktober 1952, Saat Para Perwira TNI AD Arahkan Moncong Meriam ke Istana

17 Oktober 1952, Saat Para Perwira TNI AD Arahkan Moncong Meriam ke Istana

CMBC Indonesia - Tanggal 17 Oktober 1952 menjadi salah satu hari bersejarah bagi Indonesia. Perlawanan sejumlah perwira TNI AD terhadap Presiden Soekarno. Mereka mendesak pembubaran parlemen, mereka mengklaim bukan kup atau kudeta terhadap Soekarno.

Sejarah mencatat, ada meriam yang dibawa oleh pasukan tentara Indonesia ditujukan ke istana presiden. Ditambah dengan menggunakan truk-truk tentara, golongan demonstran yang berasal dari luar ibukota diarahkan oleh Seksi Intel Divisi Siliwangi.

Melansir dari repository.uinbanten.ac.id, aksi tersebut dipimpin oleh Letnan Kolonel Kemal Idris. Ia memimpin pasukan yang membawa tank dan meriam menampakkan diri di lapangan merdeka. Beberapa diantara mocong meriam tersebut bahkan diarahkan ke istana presiden.

Meskipun tidak mendapatkan hak dan kekuasaan untuk melibatkan pasukannya melakukan pergerakan, nyatanya perwira Siliwangi yang diketahui cenderung ke PSI atau Partai Sosialis Indonesia ini telah dimandatkan untuk “memperlihatkan kekuatan”.

Ketika demonstrasi terjadi, meriam dan senapan mesin yang berada di atas mobil terlihat ditujukan ke arah Presiden Soekarno yang tengah berbicara.

Awalnya demonstrasi tersebut dilakukan oleh sekitar 5000 orang, lalu diperkirakan jumlahnya bertambah menjadi 30.000 orang. Gedung parlemen menjadi tujuan awal aksi demo, kemudian mereka berbondong-bondong menuju istrana presiden guna menyampaikan gugatannya.

Para demonstran menuntut presiden untuk membubarkan DPRS yang ada karena sudah mencampuri urusan militer, lalu menggantikan DPRS dengan yang baru.

Terkait gugatan rakyat tentang pemilihan umum, Presiden Soekarno juga berpendapat bahwa hal itu harus dilaksanakan secepat mungkin. Namun untuk mengadakan pemilihan umum perlu mempersiapkan banyak hal. Akan tetapi untuk tuntutan pembubaran DPRS, Soekarno menolak.

Soekarno beralasan, dengan membubarkan DPRD, akan menjadikan dirinya diktator sebab menyerahkan seluruh otoritas kepada kekuasaan eksekutif dari pemerintahan saja. Menurutnya ini tidak sesuai dengan ideologi negara.

Aksi ini diprakarsai oleh Kolonel Soetoko dan Kolonel S. Parman. Namun yang menjadi koordinator untuk mengatur demonstran dilapangan adalah Kolonel Dr. Mustopo. Diketahui bahwa tidak hanya sebagai Perwira Penghubung Presiden Soekarno, orang nyentrik ini juga merupakan Kepala Dinas Kedokteran Gigi Angkatan Darat, Mayor Kosasih, serta Komando Garnisun Jakarta. [tempo]

Rabu, 06 Oktober 2021

Jenderal M. Jusuf Jadi Panglima ABRI Setelah 14 Tahun Tidak Aktif di Militer

Jenderal M. Jusuf Jadi Panglima ABRI Setelah 14 Tahun Tidak Aktif di Militer

CMBC Indonesia - Pada masa Orde Baru, hampir atau bahkan semua jabatan di negara ini ditentukan oleh Soeharto. Termasuk tentang siapa yang menjadi Panglima ABRI, Angkatan Bersenjata Republik Indonesia.

Termasuk penunjukan Jenderal M Jusuf, jenderal asal Sulawesi Selatan sebagai Panglima ABRI atau dulu sering disingkat Pangab. Siapa yang menduga, 14 tahun tidak memegang tongkat komando dan tak lagi berseragam militer, tiba-tiba saja M Jusuf melesat menjadi Panglima ABRI.

Dan selama 14 tahun tidak aktif dalam militer, ternyata sudah terjadi perubahan cara baris-berbaris. Sehingga, Andi Muhammad Jusuf Amir atau yang dikenal sebagai M. Jusuf atau Jusuf bahkan harus latihan baris berbaris selama tiga hari sebelum pelantikannya.

Kisah mengenai Jenderal M. Jusuf salah satunya tertuang dalam buku Salim Said berjudul "Dari Gestapu ke Reformasi Serangkaian kesaksian". Pangkat terakhir M. Jusuf dalam ABRI adalah Brigadir Jenderal dengan jabatan Panglima Kodam XIV/Hasanuddin. Ia lalu dipromosikan menjadi Menteri Perindustrian Ringan pada 1965 setelah berhasil menumpas pemberontakan Kahar Muzakkar.

Salim Said yang juga pernah menjadi wartawan Tempo itu menulis, jalan M Jusuf menuju Panglima ABRI dimulai saat 1 Oktober 19965 ketika G30S meletus.

Saat itu ia masih berada di Beijing, tapi ia langsung terbang ke Indonesia begitu mendengar kabar kerusuhan. Begitu sampai di Kemayoran, ia tidak segera melapor ke Presiden Soekarno selaku atasannya.

Ia justru pergi ke Komando Cadangan Strategis Angkatan Darat (Kostrad), tempat Soeharto memimpin operasi penumpasan Partai Komunis Indonesia (PKI). Keputusannya itu diduga karena insting politiknya yakin era Soekarno sudah berakhir dan Soeharto-lah yang bakal naik.

M. Jusuf juga turut berperan sebagai king maker. Ia bersama Jenderal Basuki Rahmat dan Jenderal Amir Mahmud mendatangi Soekarno dan mendesaknya untuk mengeluarkan Surat Perintah Sebelas Maret atau Supersemar yang menjadi legitimasi Soeharto menggantikan Soekarno.

Soeharto lantas membalas jasa mereka. Basuki Rahmat ia jadikan sebagai Menteri Dalam Negeri. Tatkala Basuki mendadak wafat, Amir Mahmud menggantikan posisinya. Berbeda dengan keduanya, Soeharto justru menempatkan Jusuf sebagai pemimpin ABRI.

Penjelasan pengangkatan Jusuf menjadi panglima ABRI bisa ditemukan dalam memoar Jusuf Wanandi, "Shades of Grey". Menurut Wanandi, muncul suara-suara kritis terhadap kebijakan Soeharto, terutama mengenai sikap keras kepada mahasiswa, saat rapat para Jenderal di Markas ABRI pada awal 1978.

Ketika itu, Jusuf selaku Menteri Perindutrian tampil sebagai pendukung utama Soeharto maupun kebijakan-kebijakan kerasnya terhadap mahasiswa. Jusuf bahkan mengancam ia akan melawan setiap usaha pelemahan atau bahkan perebutan kekuasaan itu.

Tapi, dengan cara apa Jusuf melawan para jenderal yang kritis terhadap Soeharto? Tak lama setelah Jusuf memperlihatkan kesetiaannya terhadap Soeharto di depan hampir semua Jenderal, Presiden Soeharto lalu mengangkatnya menjadi Panglima ABRI.

Saat menjadi Panglima ABRI, Jenderal M. Jusuf selalu menyampaikan salam dari Soeharto kepada prajurit yang ia temui. Ia juga sosok yang perhatian. Perhatian dan kunjungannya sontak membuatnya populer di mata prajurit maupun masyarakat. [tempo]

Senin, 04 Oktober 2021

Sosok Misterius di Balik Operasi G30S, Siapa Sjam Kamaruzaman?

Sosok Misterius di Balik Operasi G30S, Siapa Sjam Kamaruzaman?

CMBC Indonesia - Sjam Kamaruzaman, tak banyak yang tahu nama itu. Tokoh penting di balik operasi senyap G30S pada Jumat dini hari 1 Oktober 1965. 

Polisi Militer mencatat setidaknya Sjam memiliki lima nama alias, yaitu Djimin, Syamsudin, Ali Mochtar, Ali Sastra, dan Karman. Bahkan saat ia menulis surat untuk adiknya sebelum dieksekusi pada 1986, ia menandatangani surat itu dengan nama Rusman.

Dilansir dari seri buku Tempo berjudul "Sjam Lelaki dengn Lima Alias", namanya mulai dikenal saat ia bersaksi dalam pengadilan Sudisman, Sekretaris Jenderal Partai Komunis Indonesia atau PKI pada Juli 1967. Sjam adalah kepala Biro Chusus PKI, sebuah badan rahasia yang keberadaannya misterius, setengah dipercaya setengah tidak.

"Biro Chusus bertugas mengurusi, memelihara, dan merekrut anggota partai di tubuh Angkatan Bersenjata Republik Indonesia secara ilegal," kata panitera politbiro PKI, Iskandar Subekti, dalam catatannya atas peristiwa 30 September 1965. Sebagai kepala Biro Chusus, Sjam tidak boleh membeberkan identitasya sebagai anggota partai.

Sjam Kamaruzaman sudah seperti intel dalam film, keluarga dan lingkungan sekitarnya hanya mengenal dia sebagai seorang pengusaha pemilik perusahaan genting, bengkel, dan batu kapur. Tapi, sebenarnya ia adalah salah satu anggota PKI yang punya peran besar. Dia juga ikut merencanakan aksi rahasia G30S.

Di dalam penjara, tahanan politik lain bergidik lain setiap kali sesi pemeriksaan datang. Namun, Sjam malah menghadapinya dengan senyuman. Ia memang berhubungan baik dengan aparat militer, bahkan bisa dibilang bagai "teman lama".

Seorang putranya mengenang saat ia megunjungi ayahnya yang di bui. Sjam Kamaruzaman menempati sel yang besar dan diizinkan memiliki uang satu tas penuh untuk memenuhi segala kebutuhannya.

Uang itu disinyalir sebagai harga untuk nyanyiannya kepada para peyidik terkait G30S dan PKI. Di penjara, Sjam bak penguasa yang disegani bahkan ditakuti oleh para tahanan. Para tahanan sipil maupun militer bahkan sering meminta nasihat dan perlindungan kepadanya. Ia juga diperlakukan istimewa, meski ditahan ia bebas keluyuran keluar masuk sel.

Ini untuk mencari siapa tahu ada di antara para tahanan yang merupakan 'tentara binaannya'. Tak heran jika tahanan lain merasa tidak tentram karena nasib mereka bisa ditentukan oleh nyanyian Sjam. Jika Sjam sampai menyebut nama orang, orang itu akan susah nasibnya.

Nyanyian Sjam ini digunakan Tim Pemeriksa Pusat sebaai data inteijen. Kemudiaan data ini dilaporkan kepada Menteri Panglima Angkatan Darat Jenderal Soeharto sekaligus disusun menjadi berita acara untuk penuntutan di Mahkamah Militer Luar Biasa.

Berkat nyayian Sjam Kamaruzaman, PKI disapu bersih. Setelah sembilan belas tahun bernyanyi tentang G30S dan dimusuhi sesama tahanan politik PKI, nyawanya tamat oleh sebuah bedil pada September 1986. [tempo]

Kamis, 30 September 2021

Organisasi-Organisasi yang Dianggap Berafiliasi dengan PKI

Organisasi-Organisasi yang Dianggap Berafiliasi dengan PKI

CMBC Indonesia - Partai Komunis Indonesia (PKI) pernah menjadi salah satu partai terbesar di Indonesia. Anggota PKI pada 1965 dilaporkan mencapai 3 juta orang sehingga menjadikannya sebagai partai komunis terkuat di luar Uni Soviet dan Republik Rakyat Cina (RRC). 

Tokoh-tokoh PKI juga terlibat dalam pendirian sejumlah organisasi di Indonesia pada 1950-an dan menjadi petingginya.

Namun setelah peristiwa G30S, anggota organisasi yang dianggap terkait dengan PKI diburu dan ditangkap.  Berikut beberapa organisasi yang dianggap terkait dengan PKI:

Gerwani 

Gerakan Wanita Indonesia (Gerwani) adalah organisasi wanita yang aktif di Indonesia pada tahun 1950-an dan 1960-an. Gerwani sebelumnya bernama Gerwis (Gerakan Wanita Sedar). Mengutip dari buku Penghancuran Gerakan Perempuan (Politik Seksual di Indonesia Pascakejatuhan PKI) karya Saskia E. Wieringa, Gerwis berubah menjadi Gerwani dalam kongres kedua mereka pada 1954 dan memilih Umi Sardjono, yang juga merupakan anggota PKI, sebagai ketuanya

Lekra

Lembaga Kebudayaan Rakyat atau yang lebih dikenal dengan Lekra berdiri pada 17 Agustus 1950. Lekra digagas oleh sejumlah seniman dan anggota Partai Komunis Indonesia (PKI) seperti A.S. Dharta, M.S. Ashar, Henk Ngantung, Herman Arjuno, Joebaar Ajoeb, Sudharnoto, dan Njoto. Mereka membuat lembaga kesenian yang bertujuan mendukung revolusi dan kebudayaan nasional.

Meski didirikan orang-orang PKI, Lekra merupakan organisasi terbuka dan tidak menjadi bagian dari partai berlambang palu arit itu. Mengutip Majalah Tempo edisi khusus Lekra, keinginan DN Aidit agar Lekra melebur dengan PKI ditolak oleh Njoto, wakilnya di  Central Comite PKI.

Njoto beralasan di tubuh Lekra juga bergabung seniman nonkomunis yang bukan anggota partai, seperti Pramoedya Ananta Toer dan Utuy Tatang Sontani. Menyeret Lekra menjadi organ resmi partai hanya akan menyebabkan para seniman terkenal dan berpengaruh itu hengkang

SOBSI

Sentral Organisasi Buruh Seluruh Indonesia (SOBSI) dibentuk di Indonesia pada 29 November 1946. SOBSI merupakan serikat buruh terbesar yang pernah ada di Indonesia.

SOBSI memiliki hubungan kuat dengan PKI dan sebagian besar pengurusnya adalah aktivis partai tersebut seperti Harjono, Njono, dan Setiadjit Soegondo. SOBSI terlibat pula dalam pemberontakan Madiun 1948.

Pemuda Rakjat 

Organisasi ini mula-mula dibentuk dengan nama Pemuda Sosialis Indonesia (Pesindo). Pertama kali organisasi ini diciptakan atas inisiatif Menteri Pertahanan yakni Amir Sjarifuddin.

Dua tahun setelah pemberontakan PKI Madiun pada 1948, Pesindo berganti nama menjadi Pemuda Rakyat. [tempo]

Kamis, 16 September 2021

Seperti Santri Viral, Bung Karno Pernah Tutup Telinga Ogah Dengar Musik 'Ngak Ngik Ngok'

Seperti Santri Viral, Bung Karno Pernah Tutup Telinga Ogah Dengar Musik 'Ngak Ngik Ngok'

CMBC Indonesia - Viral di media sosial video yang memperlihatkan para santri menutup telinga saat mendengarkan lagu barat diputar di lokasi vaksinasi Covid-19.

Video ini pun menuai pro kontra di antara netizen dan tokoh publik. Ada yang nyinyir dan mengatakan perbuatan santri tersebut lebay. Namun, ada juga yang mengatakan ini merupakan tindakan toleransi, karena mereka berusaha menjaga diri mereka tanpa merugikan orang lain.

Terkait menutup telinga agar tidak mendengarkan suara musik juga pernah dilakukan oleh Presiden ke-1 RI, Soekarno. Pada masa pemerintahannya, Bung Karno menentang segala hal yang berbau asing.

Soekarno mengejek lagu pop kala itu sebagai lagu "ngak ngik ngok". Salah satu grup yang tidak disukai Soekarno adalah The Beatles. Menurutnya, musik dan gaya berpakaian The Beatles membawa pengaruh buruk untuk generasi muda Indonesia menjadi cengeng.

Soekarno lalu mengeluarkan kebijakan menghukum warga yang mendengarkan dan memainkan musik 'ngak ngik ngok'. Polisi bersama Lekra dan Pemuda Rakyat menyita ratusan piring hitam dan kaset The Beatles, Rolling Stones dan The Shadows.

Pedagang piringan hitam juga diperintahkan menyerahkan musik-musik tersebut. Padahal, di era 60an, The Beatles sangat digandrungi remaja seluruh dunia.

Kelompok musik Koes Plus pun terimbas. Karena dinilai meniru The Beatles dan kebarat-baratan, mereka ditangkap oleh rezim Soekarno dan lagunya dilarang.

Lagu-lagu Koes Plus dianggap melemahkan mental anak muda dengan lagu cinta-cintaan. Gaya rambut ala The Beatles juga dilarang. Tukang cukur dilarang melayani pelanggan yang ingin mencoba gaya rambut ala The Beatles.

Celana jengki dan ketat The Beatles juga dilarang diikuti oleh anak muda. Yang melanggar, maka celana itu akan digunting sampai paha. Larangan musik 'ngak ngik ngok' Soekarno ini juga dirasakan oleh putranya sendiri, Guntur Soekarnoputra yang aktif bermusik.

Dia akan dipelototin oleh Bung Karno jika ketahuan bermain musik barat tersebut. Ketidaksukaan Bung Karno terhadap musik Barat juga tampak saat dia singgah ke Athena, 9 Juli 1965.

Kala itu, trio Grace hendak menghibur Soekarno dengan lagunya. Namun, Proklamator ini menutup kedua telinganya sambil asyik merokok. Posenya ini pun berhasil diabadikan oleh pers.

Tentu saja, kala itu tidak ada yang mengaitkan pose Bung Karno tersebut dengan Taliban, intoleransi, dan sederet sindiran lain yang dialamatkan kepada para santri yang menutup telinga saat ada musik diputar di lokasi vaksinasi. [indozone]

Selasa, 03 Agustus 2021

Apa itu Agama Bahai? Ini Sejarah dan Keberadaannya di Indonesia

Apa itu Agama Bahai? Ini Sejarah dan Keberadaannya di Indonesia

CMBC Indonesia - Agama Baha'i dari Persia memang telah tumbuh di Indonesia sejak lama. Lalu apa itu agama Bahai? Berikut penjelasan lengkapnya yang telah dirangkum Suara.com .

Agama ini masuk Indonesia dibawa oleh saudagar dari Persia dan Turki yang bernama Jamal Effendy dan Mustafa Rumi melalui Sulawesi pada 1878 silam. Ajaran agama Bahai dari Persia ini kemudian menyebar ke berbagai daerah di Indonesia.

Bahkan belakangan ini, Agama Baha'i mendadak viral di media sosial. Banyak yang penasaran, seperti apa ajaran Agama Baha'i ini? Yuk, cari tahu informasi selengkapnya di bawah ini! 

Pada era Presiden Soekarno, Baha'i sempat dilarang melalui Keppres Nomor 264/1962, karena dianggap bertentangan dengan revolusi, dan juga cita-cita Sosialisme Indonesia. Namun, pada zaman Presiden Abdurrahman Wahid alias Gus Dur, Keppres No 264/1962 dicabut dan diganti dengan Keppres No 69/2000 yang menyatakan bahwa penganut Baha'i bebas menjalankan aktivitas keagamaannya.

Sejarah Agama Bahai

Lahirnya Agama Baha'i tak lepas dari seorang saudagar dari Kota Shiraz, Iran, yang bernama Siyyid Mírzá Alí-Muhammad. Saudagar itu kemudian mendapuk dirinya dengan gelar Sang Bab, yang artinya gerbang.

Pada tanggal 23 Mei 1844, Sang Bab yang berusia 25 tahun mengakui bahwa dirinya menerima wahyu dari Tuhan. Lalu dilakukanlah gerakan keagamaan bernama Bab, di mana gerakan keagamaan Bab ini menyebar ke seantero kerajaan Persia (kini Iran) pada masa itu.

Para pemuka agama Islam pada masa itu sempat menentang. Sang Bab akhirnya meninggal secara dieksekusi mati pada 1850 di lapangan Tabriz bersama dengan 20.000 pengikutnya.

Sebelum wafat, Sang Bab menyatakan bahwa kedatangannya sebagai nabi untuk menyiapkan seorang nabi yang disebut sebagai perwujudan Tuhan. Menurutnya, ajaran yang akan dibawa oleh utusan Tuhan berikutnya akan jauh lebih besar. Orang yang dimaksud Sang Bab bergelar Baha’ullah yang berarti kemuliaan Tuhan. Baha’ullah tersebut bernama lengkap Mirza Husayn-Ali Nuri. 

Mirza Husayn adalah anak seorang Menteri masa kerajaan Persia yang menjadi pengikut Bab sejak 1845 atau setahun setelah kemunculan gerakan keagamaan ini. Tiga tahun setelah Bab dieksekusi, Mirza diasingkan ke Baghdad.

Setelah dari Baghdad, Baha’ullah dipindahkan ke penjara di Istanbul, Ibu Kota kerajaan Ottoman. Hingga dirinya dipenjara di daerah terpencil di Kota Akka, Israel hingga meninggal dunia.

Ajaran Agama Bahai

Ciri khas Agama Bahai adalah mengajarkan tiga pilar kesatuan. Yang pertama, Tuhan itu esa, satu, meskipun masing-masing orang menyebutnya dengan nama berbeda-beda. Kedua, kesatuan agama, yaitu semua agama yang ada di muka bumi Tuhan-nya sama. Dan yang ketiga, kesatuan kemanusiaan.

Baha'i memandang agama terpadu satu sama lain, berkemajuan sesuai dengan perkembangan zaman. Ajaran Baha'i meyakini Tuhan mahaesa, mahatahu, mahakuasa, tidak dapat binasa, tanpa awal dan akhir, merupakan pencipta segala alam semesta. Baha’i juga telah menerima keabsahan agama-agama besar lainnya.

Awal Mula Kantor Pusat Agama Bahai di Indonesia

Sebuah bangunan tua peninggalan Belanda di kawasan Gambir, Jakarta Pusat menjadi kantor pusat Agama Bahai di Indonesia. Kantor itu awal mulanya adalah sebagai tempat persinggahan sejumlah dokter dan tenaga medis dari Iran yang datang pada awal kemerdekaan RI.

Pada saat itu, tim medis asal Iran datang untuk membantu memberikan layanan ke berbagai pelosok negeri, sekitar tahun 1950. Dan para relawan tenaga medis dari Iran itu menganut Agama Baha'i.

Sebenarnya para dokter dan tenaga medis tersebut bukan datang dalam misi penyebaran agama Baha'i, namun untuk tujuan kemanusiaan. Dokter-dokter Iran itu menjadi relawan di berbagai pelosok negeri yang kekurangan tenaga kesehatan, seperti Aceh, Sumatera Utara, Sumatera Barat, dan daerah-daerah lainnya.

Setelah ditempati sekian lama, akhirnya umat Baha'i Indonesia membeli rumah peninggalan Belanda itu kepada pemerintah. Hingga kini gedung itu telah menjadi hak milik umat Bahai.

Itulah penjelasan apa itu agama Bahai yang baru-baru ini menjadi sorotan publik.[suara]

Rabu, 07 Juli 2021

Melihat Tempat Raja Yogyakarta Mengintip Para Selir Mandi

Melihat Tempat Raja Yogyakarta Mengintip Para Selir Mandi


SELIR, dalam bahasa Jawa halus disebut garwa ampeyan, seorang wanita yang telah diikat oleh tali kekeluargaan oleh seorang lelaki, tetapi tidak berstatus istri.

"Status selir di bawah istri, dan tugasnya membuat laki-laki itu selalu senang. Itu sebabnya, selir juga disebut klangenan (arti harfiah kata ini, kesenangan). Jika lelaki yang punya selir itu belum punya istri yang sah, maka ia tetap saja seorang perjaka," ungkap Budayawan Jawa, PM.A. Masud Thayib Adiningrat.

Peran selir dan permaisuri berbeda. Permaisuri resmi mendampingi raja sehari-hari dalam urusan kerajaan, sementara para selir hanya melayani kebutuhan raja dalam hal urusan ranjang.

Ada punggawa khusus istana yang mengatur jadwal. Para selir harus sabar mendapatkan giliran bercengkerama dengan raja. Raja diatur pada jadwal gilir. Tanpa jadwal dan petugas, dikhawatirkan raja hanya memanggil selir yang diingatnya.

Dulu ada abdi dalem yang mengirimkan anak gadisnya, minimal berusia 12 tahun ke Keraton. Resminya mereka diminta untuk belajar tari bedhaya. Mereka kerap disebut para bedhaya. Di luar itu, para orang tua yang mengirimkan anak gadisnya ke keraton berharap agar anaknya disukai raja, sehingga bisa dinikahi sebagai istri selir. Jika itu terjadi, kekayaan dan status keluarga si gadis bisa terangkat .

Dulu, selir biasa berkumpul di Tamansari untuk mandi. Tamansari adalah taman kerajaan atau pesanggrahan Sultan Yogya dan keluarganya.

Tamansari masih berlokasi di dalam kompleks Keraton Yogyakarta, tepatnya di sebelah barat dan selatan atau sebelah selatan Pasar Ngasem. Taman Sari terletak di Kampung Taman, Kecamatan Keraton Kota Yogyakarta.

Di dalamnya, terdapat dua kolam besar yang dipisahkan oleh satu jembatan yang dihiasi dengan beberapa pot tanaman. Di bagian kanan terdapat kanal air dan bangunan tingkat tiga yang biasa digunakan oleh sang sultan.

Di sebelah kiri juga terdapat satu ruangan lagi dengan beberapa bilik yang saat ini telah dikosongkan. Kolam di tengah disebut juga sebagai Umbul Pasiraman atau Umbul Binangun.

Kolam tersebut konon digunakan sebagai tempat mandi oleh para selir Raja atau Sultan. Tercacat Hamengkubuwono II memiliki 4 permaisuri dan 26 selir. Pakubuwono X memiliki 40 selir.

Karena fungsinya yang digunakan sebagai tempat pemandian para selir kerajaan, maka bangunan ini dibuat dengan tembok tinggi dan sangat tertutup, hingga tak sembarang orang yang bisa masuk ke dalamnya tanpa seizin sultan.

Konon menara di bagian tengah digunakan oleh sultan untuk melihat para selir mandi. Dari jendela menara tersebut, Sultan kemudian memilih salah satu selir dengan melemparkan bunga. Selir yang terpilih akan dipanggil ke menara. Sementara selir lainnya kembali ke keraton.
Kolam di tengah adalah tempat selir keraton membersihkan badan serta persiapan ketika Sultan akan memanggil, dengan cara mandi bersama. Kolam itu dapat menampung puluhan selir. []

Jumat, 02 Juli 2021

Tanjungpinang Hampir Jadi Milik Singapura, Sejarah Panjang Kota Penting Kesultanan Johor

Tanjungpinang Hampir Jadi Milik Singapura, Sejarah Panjang Kota Penting Kesultanan Johor


CMBC Indonesia - Tanjungpinang adalah kota sekaligus ibu kota dari Provinsi Kepulauan Riau. Sejarah Tanjungpinang namanya diambil dari posisi daerah yang menjorok ke laut yang banyak ditumbuhi pohon pinang sejak era Kesultanan Johor Riau Lingga.

Meski kini jadi salah satu kota Indonesia, ternyata di masa lalu Tanjungpinang pernah hampir menjadi bagian dari Singapura. Tanjungpinang menjadi bagian Singapura tentu memiliki cerita panjang sebelum akhirnya kabar kemerdekaan Indonesia tiba di sana.

Sebelum menjadi kota administratif, Tanjungpinang masuk dalam wilayah Kabupaten Kepulauan Riau, Provinsi Riau. Dasar pembentukan Kota ini, mengacu pada Undang-Undang Nomor 5 Tahun 2001 yang disahkan oleh Presiden RI Abdurrahman Wahid tertanggal 21 Juni 2001.

Seiring pesatnya perkembangan daerah Kepri, pada 2002 daerah yang awalnya kabupaten itu dibentuk jadi provinsi sendiri dan Tanjungpinang ditunjuk sebagai ibu kotanya.

Seperti yang dituliskan tadi, sebelum Indonesia merdeka, Tanjungpinang sempat akan menjadi bagian dari 'Sijori' karena kabar proklamasi kemerdekaan Indonesia baru sampai dua bulan di sana. Sijori merupakan akronim dari Singapura Johor Riau, segitiga emas jalur perdagangan di Asia Tenggara.

Namun, berkat tindakan beberapa tokoh penting pada waktu itu, Tanjungpinang dan beberapa daerah yang sebelumnya dikuasai Belanda menurut Traktat London waktu itu akhirnya bergabung dengan Indonesia.

Momen itu ditandai dengan proklamasi kemerdekaan dan pengibaran bendera merah putih di dekat pesisir Tanjungpinang di depan gedung daerah pada 29 Desember 1949 atau empat tahun setelah proklamasi di Jakarta. Saat ini bekas tempat proklamasi kemerdekaan Republik Indonesia di Tanjungpinang itu dijadikan tugu proklamasi.

Sejarah Tanjungpinang cukup panjang, sebagai salah satu daerah penting bagi Kesultanan Johor Riau Lingga daerah ini memiliki segudang peninggalan sejarah.

Salah satu yang paling terkenal adalah situs di Pulau Penyengat. Belum afdhol rasanya jika Anda ke Tanjungpinang tanpa mengunjungi Pulau Penyengat.

Konon nama Pulau Penyengat diambil dari banyaknya hewan penyengat atau sejenis lebah pada masa lalu ketika era Kesultanan Johor Riau Lingga akan memindahkan pusat kerajaannya di sana.

Riwayat Pulau Penyengat sebagai salah satu ikon penting di Kota Tanjungpinang memiliki kekayaan peninggalan sejarah. Seperti keberadaan kompleks makam pewaris era Kesultanan, bangunan tua kantor istana, dan yang paling terkenal, Masjid Raya Sultan Riau.

Menurut kisah sejarahnya, bangunan masjid raya yang berada di Pulau Penyengat dulunya terbuat dari kayu dan tidak seluas sekarang. Masjid itu mengalami pemugaran saat residen Belanda berkuasa di sana.

Menurut cerita yang beredar di masyarakat, masjid itu dibangun dengan putih telur. Sebab ada sumbangan telur melimpah saat pembangunan. Saking banyaknya stok telur itu, akhirnya daripada mubazir sebagian putih telur digunakan oleh para pekerja untuk campuran semen perekat bangunan masjid.

Tanjungpinang dan beberapa daerah di Riau lainnya memiliki kekayaan kuliner sejak dulu salah satunya makanan khas berbahan dasar gonggong atau sejenis siput laut.

Wilayah Tanjungpinang memiliki banyak kekayaan alam khususnya dari daerah perairannya. Siput laut yang sudah menjadi bagian dari kehidupan masyarakat Tanjungpinang sejak dulu, kini dijadikan sebagai salah satu ikon unik dari kota itu diberi nama Tugu Gonggong.[sc]

Rabu, 16 Juni 2021

Ajak Suami Murtad Saat Menikah, Wanita Ini Kini Justru Masuk Islam: Saya Merasa Lebih Dekat dengan Tuhan

Ajak Suami Murtad Saat Menikah, Wanita Ini Kini Justru Masuk Islam: Saya Merasa Lebih Dekat dengan Tuhan


CMBC Indonesia - Namanya hidayah, datangnya bisa kapan saja. Tak mengenal kondisi atau siapa pun yang akan menerimanya.

Seperti diketahui, banyak orang yang memutuskan untuk menjadi mualaf setelah melewati perjalanan hidup berliku-liku, seperti misalnya yang dialami seorang wanita bernama Agnes Chandra.

Ia dilahirkan sebagai seorang Nasrani tulen. Namun, ketika beranjak dewasa, ia berkenalan dengan seorang pria Muslim yang kemudian menjadi suaminya.

Untuk bisa menikah dengan pria yang dicintainya, Agnes rupanya sempat menarik sang suami berpindah keyakinan mengikutinya alias mengajak murtad.

“Saya menarik suami saya menjadi Nasrani dari seorang Muslim. Kami menikah secara Katolik,” ungkap Agnes dalam sebuah video di kanal YouTube Vertizone TV, dikutip terkini.id dari Haibunda pada Selasa, 15 Juni 2021.

Pada mulanya, sang suami sempat merasa keberatan untuk berpindah keyakinan. Akan tetapi, sering waktu, ia pun rela mengikuti Agnes untuk menjadi seorang Nasrani.

“Sebetulnya keberatan juga. Dia dari kecil sudah memeluk agama Islam, tapi seiring waktu, dia mau. Dia juga sudah menjalani syarat untuk masuk jadi Nasrani.”

Ternyata Agnes Chandra sering memperhatikan teman kosnya itu ketika sedang menunaikan shalat.

Anehnya, setiap kali melihat temannya salat, Agnes merasakan ada rasa tentram di dalam hatinya.

Waktu demi waktu berlalu, tetapi sayangnya rumah tangga Agnes dan suami tidak bertahan lama.

Mereka diketahui mantap memutuskan untuk mengakhiri pernikahan sebelum dikaruniai anak.

Nah, uniknya, Agnes Chandra justru mendapatkan hidayah usai bercerai dari suaminya.

Rasa ketertarikannya dengan Islam semakin besar, terlebih setelah ia kembali bertemu dengan seorang pria Muslim.

Keduanya pun saling jatuh cinta dan akhirnya memutuskan untuk mengikat diri dalam janji suci pernikahan.

Namun, berbeda dengan pernikahan sebelumnya. Kali ini, Agnes yang harus memeluk Islam sebagai syarat pernikahan mereka.

Kendati demikian, Agnes mengaku bahwa kala itu ia memang sudah tertarik dengan Islam sehingga dirinya menjadi mualaf tanpa adanya paksaan.

“Karena saya juga sudah tertarik melihat teman kos saya, akhirnya saya setuju. Enggak ada keraguan mengikuti agama suami. Betul-betul dari hati,” tegasnya.

Hanya saja, ketika memutuskan untuk berpindah keyakinan, Agnes melewati rintangan yang datang dari keluarga.

“Saya mau ngomong sama orang tua takut juga, masih ada keraguan. Karena saya harus menikah, aku harus menjadi Muslim. Pokoknya aku beranikan ngomong sama orang tua. Waktu itu yang paling menentang Mama, kala Papa welcome aja,” bener Agnes.

“Mama marah dikit karena saya kan dibaptis dari bayi. Saya sudah menjalani semua. Istilahnya, saya sudah lengkap di agama saya yang dulu.”

Namun, Agnes tidak menyerah untuk mendapatkan restu. Ia pun berbicara empat mata dengan sang ibu di hari ketika hendak mengucapkan dua kalimat syahadat.

“Waktu itu Mama cuma bisa menangis aja, mungkin enggak rela atau gimana. Sempat diam juga Mama beberapa hari. Tapi setelah saya di-Islamkan, lama-lama saya menyapa Mama dulu. Akhirnya seiring waktu Mama menerima juga,” pungkasnya.

Resmi menjadi mualaf, banyak hal yang berubah dari hidup Agnes, terutama dari segi spiritual, di mana ia merasa lebih dekat dengan Sang Pencipta.

“Kalau dulu ibadah kan cuma seminggu sekali, tapi sekarang lima waktu dalam sehari. Saya merasa lebih dekat dengan Tuhan,” tandas Agnes.[terkini]

Sabtu, 12 Juni 2021

Ini Alasan Kenapa Presiden Soekarno Sering Pakai Peci Hitam

Ini Alasan Kenapa Presiden Soekarno Sering Pakai Peci Hitam


CMBC Indonesia - Dosen Ilmu Politik dan Ilmu Pemerintahan Universitas Gajah Mada (UGM), Abdul Gaffar Karim menjelaskan alasan Presiden Pertama RI, Soekarno, sering memakai peci hitam.

"Bung Karno pernah menceritakan di dalam otobiografinya bahwa beliau memilih memakai peci hitam karena peci merupakan tutup kepala yang biasa dipakai oleh rakyat kecil," kata Gaffar, dikutip dari Antara, Rabu (9/6/2021).

Gaffar mengatakan bahwa penampilan Bung Karno memang khas dan menonjolkan sifatnya sebagai "singa podium". Bung Karno biasa memakai setelan jas dengan tanda kepangkatan simbol militer dan peci hitam.

Selama menjadi presiden, atribut busana unik itu selalu dipakainya bahkan hingga kunjungan kenegaraan ke luar negeri. Bukan tanpa alasan, ternyata ada filosofi tersendiri dari peci hitam tersebut.

Menurut Bung Karno, peci merupakan simbol dari rakyat kecil pada saat itu. Peci adalah tutup kepala yang sering dipakai oleh rakyat pribumi, bukan oleh raja, petinggi ataupun bangsawan pada saat itu.

Selain itu, makna psikologis peci adalah simbol perlawanan kepada penjajahan kolonialis dan imperialis pada masa itu. "Itu merupakan simbol perlawanan kepada penjajahan, kepada imperialisme dan peci hitam merupakan simbol paling tepat menggambarkan untuk waktunya rakyat berada di atas," kata Gaffar.

Dalam berbagai pertemuan, Bung Karno memakai pecinya sedikit miring ke kiri. Hal ini menggambarkan pandangannya yang berpihak kepada rakyat (sosialis) melawan penjajahan.

Selain peci, jas putih keabuan dan tongkat komando yang dikenakan oleh Bung Karno saat itu juga memiliki makna psikologis, yakni menunjukkan rasa percaya diri, optimistis, kebanggaan, dan kehormatan Bung Karno sebagai bagian dari bangsa yang merdeka dan berdaulat.

"Pecinya selalu sedikit miring ke kiri, menggambarkan keberpihakan Bung Karno kepada rakyat. Bung Karno seorang ideolog, biasa menyampaikan pesan ideologi dengan cara apapun itu. Salah satunya lewat cara berpakaian, dan di sinilah Bung Karno menunjukkan bahwa beliau tidak ingin memihak kepada satu golongan saja," kata Gaffar.[viva]

Minggu, 06 Juni 2021

Keruntuhan 'Final' Israel Telah Diprediksi Einstein dalam Suratnya

Keruntuhan 'Final' Israel Telah Diprediksi Einstein dalam Suratnya

CMBC Indonesia - Tidak perlu jadi seorang jenius untuk melihat proyek Zionis yang disebut Israel akan hancur berantakan. Namun, ada seorang jenius yang meramalkan kematian Israel saat dia diminta membantu mengumpulkan dana untuk sel-sel teror Zionis.

“Sepuluh tahun sebelum negara itu mendeklarasikan kemerdekaannya pada 1948 di atas tanah yang dicuri dari rakyat Palestina, Albert Einstein menggambarkan pembentukan Israel yang diusulkan sebagai sesuatu yang bertentangan dengan sifat esensial Yudaisme," papar Yvonne Ridley dalam artikel di Middle East Monitor.

Setelah melarikan diri dari Hitler di Jerman dan akhirnya menjadi warga negara Amerika Serikat (AS), Einstein tidak membutuhkan pelajaran tentang seperti apa fasisme itu.

Salah satu fisikawan terbesar dalam sejarah, dan didukung beberapa intelektual Yahudi terkenal lainnya, Einstein melihat kekurangan dan garis patahan itu pada 1946 ketika dia berbicara kepada Komite Penyelidikan Anglo-Amerika tentang masalah Palestina.

Dia tidak mengerti mengapa Israel dibutuhkan. "Saya percaya itu buruk," ungkap Einstein saat itu.

Dua tahun kemudian, pada 1948, dia dan sejumlah akademisi Yahudi mengirim surat ke New York Times untuk memprotes kunjungan Menachem Begin ke Amerika Serikat.

Dalam surat yang terdokumentasi dengan baik, mereka mengecam Partai Herut (Kebebasan) pimpinan Begin. “Partai politik yang sangat mirip dalam organisasi, metode, filosofi politik, dan daya tarik sosialnya kepada partai Nazi dan Fasis," ujar Einstein dan para akademisi Yahudi.

Herut adalah partai nasionalis sayap kanan yang kemudian menjadi Partai Likud yang dipimpin Benjamin Netanyahu sekarang.

“Sebagai pemimpin kelompok teroris Zionis Irgun, yang memisahkan diri dari organisasi paramiliter Yahudi yang lebih besar, Haganah, Begin diburu karena kegiatan teroris melawan otoritas Mandat Inggris,” papar Ridley.

Bahkan ketika Begin menjadi perdana menteri Israel (1997-1983), dia tidak pernah berani mengunjungi Inggris, di mana dia masih dalam daftar orang yang paling diburu.

Kekerasan menjelang kelahiran Israel yang secara khusus membuat Einstein muak, dan tidak diragukan lagi ini yang paling utama dalam pikirannya ketika dia menolak tawaran menjadi presiden Israel.

Tawaran ini diajukan kepada Einstein pada 1952 oleh Perdana Menteri Israel David Ben-Gurion.

Meskipun penolakannya sopan, Einstein percaya peran itu akan bertentangan dengan hati nuraninya sebagai seorang pasifis, dan fakta bahwa dia harus pindah ke Timur Tengah dari rumahnya di Princeton, New Jersey tempat dia menetap sebagai pengungsi Jerman.

“Saat meneliti pandangan Einstein, saya menemukan surat-suratnya yang lain, yang kurang terkenal tetapi mungkin jauh lebih mengungkapkan daripada yang lain yang telah dia tulis tentang masalah Palestina. Singkat saja, hanya 50 kata, itu termasuk peringatannya tentang malapetaka terakhir yang dihadapi Palestina di tangan kelompok teror Zionis,” ujar Ridley.

Surat khusus ini ditulis kurang dari 24 jam setelah berita tentang pembantaian Deir Yassin di Yerusalem Barat pada April 1948.

“Sekitar 120 teroris dari Irgun pimpinan Begin dan Stern Gang (dipimpin oleh teroris lain yang kemudian menjadi perdana menteri Israel, Yitzhak Shamir), memasuki desa Palestina dan membantai antara 100 dan 250 pria, wanita dan anak-anak,” ungkap Ridley.

Ridley menambahkan, “Beberapa orang meninggal karena tembakan, yang lain dari granat tangan yang dilemparkan ke rumah mereka. Orang lain yang tinggal di desa yang damai itu terbunuh setelah dibawa dalam parade yang aneh melalui Yerusalem Barat. Ada juga laporan pemerkosaan, penyiksaan dan mutilasi.”

Sebulan kemudian Inggris mengakhiri kekuasaan Mandat mereka di Palestina dan Israel muncul.

Legitimasi yang diklaim para pendiri Israel adalah Resolusi Pemisahan PBB November 1947 yang mengusulkan agar Palestina dibagi menjadi dua negara, satu Yahudi dan satu Arab, dengan Yerusalem dikelola secara independen dari kedua belah pihak.

Surat yang diketik Einstein ditujukan kepada Shepard Rifkin, Direktur Eksekutif American Friends of the Fighters for the Freedom of Israel, yang berbasis di New York.

Kelompok ini awalnya diluncurkan untuk mempromosikan ide-ide anti-Inggris dari Stern Gang, dan mengumpulkan uang di Amerika untuk membeli senjata untuk mengusir Inggris dari Palestina.

Rifkin ditunjuk sebagai direktur eksekutifnya, meskipun dia kemudian menyebut dirinya sebagai "orang yang jatuh".

Dia telah diberitahu oleh Benjamin Gepner, seorang komandan yang mengunjungi AS, untuk mendekati Einstein untuk bantuannya.

Rifkin berkewajiban, tetapi setelah pembantaian Deir Yassin, dia menerima respons yang luar biasa dari Einstein, yang ditulis hanya dalam 50 kata:

“Yang terhormat, Ketika bencana nyata dan final harus menimpa kita di Palestina, yang pertama bertanggung jawab untuk itu adalah Inggris dan yang kedua bertanggung jawab untuk itu organisasi Teroris yang dibangun dari barisan kita sendiri. Saya tidak ingin melihat siapa pun yang terkait dengan orang-orang yang disesatkan dan kriminal itu. Hormat kami, Albert Einstein,” tulis Einstein dalam surat singkat itu.

Surat itu asli dan dijual dalam pelelangan ketika muncul kembali dan sejak itu digambarkan sebagai salah satu dokumen anti-Zionis paling tegas oleh sang jenius tersebut.

Tidak ada yang lebih berbeda dalam nada dan isi dari surat yang dia tulis kepada Manchester Guardian pada 1929, ketika dia memuji "pionir muda, pria dan wanita dengan kaliber intelektual dan moral yang luar biasa, memecahkan batu dan membangun jalan di bawah terik matahari Palestina" dan "pemukiman pertanian yang berkembang pesat yang muncul dari tanah yang telah lama ditinggalkan... pengembangan listrik tenaga air... (dan) industri... dan, di atas segalanya, pertumbuhan sistem pendidikan... Yang pengamat... bisa gagal ditangkap oleh keajaiban pencapaian luar biasa dan pengabdian yang hampir manusiawi seperti itu?"

Einstein mendasarkan pandangannya pada saat ia mengunjungi Palestina selama 12 hari pada 1923, saat memberikan kuliah di Hebrew University of Jerusalem. Ternyata itu adalah satu-satunya kunjungan dia ke tanah suci itu.

Sebagai seorang pasifis seumur hidup, Einstein menyukai gerakan perdamaian global ketika dia menulis "Manifesto untuk Orang-orang Eropa" untuk meminta perdamaian di Eropa melalui persatuan politik semua negara di seluruh benua.

“Tidak heran dia tidak pernah mengunjungi negara Israel, yang terbentuk dari laras senjata, dinamit, dan darah orang-orang Palestina,” tutur Ridley.

Ada banyak "Deir Yassin" sejak Peraih Nobel Einstein mengutuk langsung apa yang dilihatnya sebagai terorisme Yahudi.

“Hari ini, dengan Gaza yang masih membara dari serangan militer brutal terbaru Benjamin Netanyahu terhadap penduduk sipil yang sebagian besar tidak bersenjata, masa depan negara Zionis tidak pernah tampak lebih genting,” ungkap Ridley.

Menurut Ridley, “Kita diberitahu bahwa semua karir politik berakhir dengan kegagalan, dan Netanyahu hanyalah salah satu contohnya. Kita juga diberitahu bahwa keruntuhan masyarakat tidak dapat dihindari dengan jatuhnya pemerintah secara terus-menerus dan meningkatnya kekerasan yang sering disebabkan oleh perang dan bencana.”

Israel telah mengadakan empat Pemilihan Umum hanya dalam waktu dua tahun, yang tidak mampu menghasilkan pemerintahan yang stabil.

“Cara Netanyahu mempertahankan cengkeramannya pada kekuasaan adalah dengan menunjukkan bahwa dia adalah orang kuat yang dibutuhkan negara untuk mempertahankan diri dari Palestina,” ungkap Ridley.

Selain itu, di bawah pemerintahannya, Hukum Negara Bangsa Yahudi disahkan, undang-undang yang bertentangan dengan klaim bahwa Israel adalah demokrasi liberal.

“Maka, tidak heran, bahwa semakin banyak orang Yahudi di penjuru dunia seperti Einstein, menolak filsafat politik ‘Nazi dan Fasis’ Herut yang tampaknya telah bereinkarnasi di Likud dan partai-partai yang lebih jauh ke kanan dalam spektrum politik,” ungkap Ridley.

“Orang-orang baik dari semua agama tidak ada yang terkejut bahwa ekstremisme sayap kanan tampaknya melanda masyarakat arus utama Israel secara keseluruhan,” papar Ridley.

Ridley menegaskan, “Ilmuwan Yahudi paling terkenal dalam sejarah tahu dari konsepsi berdarahnya bahwa Israel yang diciptakan dan dijalankan oleh sayap kanan fanatik bersenjata tidak layak. Seharusnya tidak perlu seorang jenius untuk memberi tahu kita tentang hal itu, tapi memang seperti itu.” []

Sabtu, 05 Juni 2021

Gempa Bumi Terlama Pernah Melanda Sumatra, Berlangsung 32 Tahun

Gempa Bumi Terlama Pernah Melanda Sumatra, Berlangsung 32 Tahun

GEMPA bumi dahsyat mengguncang Sumatra pada Februari 1861, memicu tsunami yang memporak-porandakan kawasan pantai barat sepanjang 500 kilometer. Ribuan orang diperkirakan meninggal dunia.

Kini, para pakar meyakini gempa dengan kekuatan 8,5 Magnitudo itu bukan peristiwa alam tunggal.

Gempa ini merupakan akhir dari gempa bumi paling lama yang pernah diketahui manusia.

Disebut terlama karena sebelum gempa pada 1861 tersebut, terjadi gempa di bawah permukaan yang berlangsung selama 32 tahun, fenomena alam yang dikenal dengan slow-slip.

Kejadian alam seperti ini bisa berlangsung dalam hitungan hari, bulan atau tahun. Namun dalam catatan para ahli, tak ada yang terjadi selama 32 tahun, seperti yang terjadi di Sumatra pada abad ke-19, kata tim pakar di Nanyang Technological University's Earth Observatory of Singapore.

Kajian mereka soal gempa terlama ini dimuat di jurnal Nature Geoscience.

Studi baru ini diharapkan dapat membantu para ilmuwan saat ini untuk mewaspadai gempa berbahaya dengan lebih efektif, ungkap laman Scientific American.

Seperti gempa-gempa yang mengguncang permukaan bumi, gempa tipe slow-slip itu terjadi ketika dua segmen kerak bumi bergerak satu sama lain.

Beberapa patahan yang terkait dengan gempa slow slip itu kini dipantau dengan instrumen-instrumen seismik teknologi GPS.

Namun, melacak pergerakan itu pada beberapa patahan tertentu -- terutama sebelum tahun 1990-an, ketika GPS belum tersedia secara luas-- sangatlah sulit.

Beberapa gempa slow-slip belakangan ini yang dipelajari para ilmuwan berlangsung selama berjam-jam, berhari-hari, atau berminggu-minggu, hanya sedikit yang sampai beberapa tahun.

Keberadaan gempa slow-slip selama puluhan tahun itu "mengungkapkan bahwa zona subduksi ternyata lebih beragam dari yang diperkirakan," kata Kevin Furlong, ilmuwan geo saintifik dari Universitas Pennsylvania State, yang tidak terlibat dalam penelitian terbaru itu, seperti yang dikutip oleh Scientifc American.

Zona subduksi adalah daerah di mana kerak samudera meluncur di bawah kerak benua.
Terungkap dari terumbu karang
Di dekat Simeulue, pulau Provinsi Aceh di lepas pantai Sumatra, pola pertumbuhan terumbu karang di sana menandakan pergerakan naik-turun di sepanjang patahan yang terkait gempa 1861, dan ini membuka tinjauan langka ke masa lalu.

Terumbu karang tidak dapat tumbuh bila terpapar udara. Sehingga saat permukaan laut setempat berubah akibat pergerakan tektonik, perubahan itu dapat terlihat dalam pertumbuhan kerangka karang, ungkap Rishav Mallick, mahasiswa program doktoral di Universitas Teknologi Nanyang di Singapura sekaligus salah satu peneliti studi baru tersebut, yang dipublikasikan Mei 2021 di jurnal Nature Geoscience.

Terumbu karang di laut Simeulue itu hampir setiap tahun mengalami pergerakan vertikal pada patahan selama tahun 1738 hingga 1861.

Terumbu karang itu mengungkapkan bahwa Simeulue pernah terendam atau tenggelam selama 90 tahun dengan tingkat penurunan satu atau dua milimeter setiap tahun, yang konsisten dengan gerakan latar belakang patahan.

Namun sekitar tahun 1829, tiba-tiba permukaannya turun lima hingga tujuh kali lebih cepat - bahkan sampai satu sentimenter selama beberapa tahun, ungkap Mallick. Ini menandakan bahwa patahan itu telah mulai mengalami proses gempa slow-slip.

"Itu adalah perubahan yang sangat tajam," ujarnya. Penurunan yang begitu cepat itu terus berlangsung hingga gempa besar 1861.

Studi itu menyoroti kompleksitas zona-zona subduksi, ungkap Furlong.

Untuk sekian lama, dia mencatat, "asumsinya adalah bahwa, di antara gempa-gempa besar, sistemnya sederhana": dua bagian kerak saling mengunci di patahan, membangun ketegangan sampai retak dan terlepas dengan guncangan.

Gempa-gempa slow slip memperumit gambaran itu, karena bisa saja menjadi pemicu bagi getaran yang lebih besar dan dapat dideteksi dengan menghilangkan tekanan pada satu bagian patahan tetapi menambah ketegangan pada bagian yang berdekatan, kata Mallick.

"Ini seperti serangkaian pegas," jelasnya. "Jadi, jika satu melepaskan, yang lain harus menanggung bebannya."

Gempa dan tsunami 2004 didahului slow-slip
Gempa bumi dan tsunami Samudra Hindia 2004 yang menewaskan lebih dari 220.000 orang didahului oleh gempa slow-slip selama beberapa tahun di Kepulauan Andaman, kata Mallick.

Namun, slow slip itu tidak dapat membantu untuk memprediksi gempa yang lebih besar karena durasi prosesnya sangat variatif.

Tidak ada patahan-patahan yang dimonitor oleh GPS selama 32 tahun berturut-turut, sehingga pemantauan modern mungkin tidak menangkap kejadian yang berlangsung lama seperti slow slip di Indonesia di abad ke-19.

Lagipula tidak semua patahan dapat dipantau dengan baik. Hal ini terutama berlaku pada patahan subduksi di bawah laut, yang memerlukan pemantauan dasar laut khusus ketimbang hanya dengan GPS.

Jika gerakan slow-slip terlewatkan, peneliti mungkin salah mengkalkulasi regangan pada suatu patahan dan seberapa kuat gempa yang berpotensi dihasilkan oleh patahan tersebut.

"Begitu kita bisa lebih baik dalam memantau wilayah yang terkunci, kita bisa lebih baik juga dalam menentukan besarnya gempa yang bisa terjadi," kata Furlong. []

Senin, 24 Mei 2021

Kisah Bung Karno Diajak Inspeksi Penari Perut oleh Presiden Mesir Gamal Abdul Nasser

Kisah Bung Karno Diajak Inspeksi Penari Perut oleh Presiden Mesir Gamal Abdul Nasser


DALAM buku" Soekarno, Bapakku, Kawanku, Guruku," karya Guntur Soekarno Putra diceritakan kisah menarik dan humanis dari Bung Karno.

Guntur mendapat cerita dari Bung Karno antara tahun 1967-1968 di Wisma Yaso, (sekarang museum Satria Mandala), Jalan Gatot Subroto, Jakarta Selatan. Bung Karno bercerita kepada Guntur soal Presiden Mesir Gamal Abdul Nasser.

“Suatu waktu Bapak ke Republik Persatuan Arab, dari airport Kairo Bapak bersama rombongan langsung pergi ke penginapan," kisah Bung Karno.

Waktu itu Bapak betul-betul lelah. Pokoknya Bapak hari itu mau istirahat total supaya besoknya dalam pertemuan dengan Pak Nasser, Bapak benar-benar segar," sambungnya.

Lanjutnya "Eh tidak tahunya datang Sabur ketok-ketok kamar Bapak, langsung ia Bapak semprot," aku kan sudah bilang aku mau istirahat!”

“Ada utusan Presiden Nasser, Pak,” jawab Sabur, ajudan Bung Karno.

“Dari manaaaa? Persetaaaan!”

“Utusan dari Pak Nasser,” kata Sabur.

“Tidaak ... perrrdullliii,”

“Ada utusan dari Presiden Nasser ... Pak,” ucap Sabur lagi.

“Maneh gelo! Kunaon teu ngomong ti tadi (Kamu gila, kenapa tidak omong dari tadi). Siapa utusannya? Di mana dia sekarang?”

“Inii Pak, aya di pengker abdii (ada di belakang saya). Marsekal Abdul Hakim Amir ... Pak,” jelas Sabur.

“Wah Sdr. Amir maafkan keadaan saya. Maklumlah sudah mau tidur”

Marsekal Amir mengambil tempat duduk dan mulai bicara. Namun pembicaraannya terlalu santun, hanya mengatakan Nasser ingin mengajak Bung Karno berinspeksi.

Bung Karno memberikan alasan, dia masih terlalu lelah. Lalu mengapa acara inspeksi ini mendadak, lagi pula dia perlu istirahat.

Marsekal Amir agak kecewa, lalu meminta kesediaan Bung Karno agar menemani Nasser inspeksi. Bung Karno pun menolak dengan halus.

“Tetapi eh soalnya adalah....”,kata Marsekal Hakim.

 “ Soal apa lagi?”

“Soalnya Presiden kami mengundang sahabat beliau, yaitu Presiden Republik Indonesia untuk menginspeksi para penari perut di seluruh pelosok kota Kairo. Untuk itu kami diperintahkan untuk menyampaikannya pada paduka Yang Mulia.”

“Oooh ya? Ho ho ho ... Kenapa tak bilang dari tadi? Sampaikan pada Saudaraku Nasser, bahwa Soekarno dari Indonesia akan siap dalam 10 menit!. ***

Sabtu, 24 April 2021

Kisah KH Hasyim Asyari Disiksa Jepang hingga Telapak Tangannya Remuk

Kisah KH Hasyim Asyari Disiksa Jepang hingga Telapak Tangannya Remuk

DALAM buku biografi KH Hasyim Asyari (1871-1947) berjudul "Guru Sejati, Hasyim Asy’ari" diceritakan, pendiri Pondok Pesantren Tebuireng Jombang dan Pendiri Nahdlatul Ulama (NU) itu ditangkap oleh tentara Nippon (Jepang) karena dianggap akan melakukan pemberontakan.

Ayah KH Abdul Wahid Hasyim (ayah Gus Dur) dipenjara dan disiksa tentara Jepang untuk alasan yang tidak pernah diperbuatnya.

Ada sebuah foto ketika Kyai Haji Hasyim Asyari bertemu petinggi militer Jepang di Jakarta setelah insiden penangkapannya di Jombang. Posisi tangannya di pangkuan seperti menahan rasa sakit.

Telapak tangan kirinya masih remuk karena dipukul palu saat di penjara Jepang. Ucapan istighfar yang keluar saat menahan sakit jika hantaman palu mengenai tapak tangannya 

Pada 1942, Hasyim Asyari beserta beberapa santri ditahan karena melakukan penolakan terhadap seikerei, sebuah penghormatan terhadap Kaisar Hirohito dan ketaatan pada Dewa Matahari (Amaterasu Omikami) yang merupakan suatu kewajiban bagi rakyat Indonesia kala itu. Seikerei ini dilakukan dengan membungkuk ke arah Tokyo setiap pukul 07.00 pagi. 

Hasyim Asyari menolak seikerei karena hanya Allah yang patut disembah, bukan manusia atau matahari. Selama dalam tahanan ini, banyak penyiksaan fisik yang diterima Hasyim Asyari, bahkan salah satu jarinya patah hingga tidak dapat digerakkan. 

Akhirnya, setelah empat bulan, tepatnya pada tanggal 18 Agustus 1942, Hasyim Asyari dibebaskan karena banyaknya protes dari kalangan Kyai dan santri.

Akhirnya pihak Jepang meminta maaf kepada para ulama terutama Kyai Hasyim sebagai yang dituakan.

Sebelumnya oada 1913, intel Belanda mengirim seorang pencuri untuk membuat keonaran di Tebuireng. Pencuri ini kemudian tertangkap dan dihajar oleh para santri hingga tewas.

Tewasnya pencuri ini dimanfaatkan pihak Belanda untuk menangkap Hasyim Asyari dengan tuduhan pembunuhan. Akan tetapi, karena Hasyim Asyari memahami dengan baik hukum-hukum Belanda, ia dapat menepis semua tuduhan tersebut dan lepas dari jeratan hukum.

Lalu Belanda mengirimkan beberapa kompi pasukan untuk menghancurkan pesantren Hasyim Asyari yang baru berusia 10 tahunan. Bangunan pesantren porak-poranda dan kitab-kitab hancur serta terbakar. Perlakuan Belanda berlangsung sampai 1940. 

Meski mengalami beragam kekerasan di dalam penjara, kakek dari KH Abdurrahman Wahid (Gus Dur) tidak menyurutkan sedikit pun semangat menegakkan agama Allah dengan tetap melantunkan ayat-ayat suci Alquran dan mengulang hafalan hadits-hadits dalam kitab Al-Bukhari.

Kisah keteguhan hati Kiai Hasyim Asyari dengan tetap menghafal Alquran dan Kitab Hadits Al-Bukhari sebagai wiridan (kebiasaan rutin) selama dipenjara oleh Jepang diriwayatkan oleh Komandan Hizbullah wilayah Jawa Tengah, KH Saifuddin Zuhri saat berbincang dengan KH Wahid Hasyim (Berangkat dari Pesantren, 2013) dalam sebuah kesempatan sesaat setelah Kiai Hasyim Asyari dibebaskan oleh Jepang melalui diplomasi KH Abdul Wahab Chasbullah dan Gus Wahid.[]

Rabu, 21 April 2021

Fenomena Kyai-Haji Komunis, Ada Kyai Dasuki Siradj dan Haji Misbach

Fenomena Kyai-Haji Komunis, Ada Kyai Dasuki Siradj dan Haji Misbach


Oleh. Irfan S Awwas*

Mungkinkah seorang bergelar Kyai Haji berideologi komunis ? Mungkinkah orang yang lama nyantri di pesantren bisa terpapar PKI ? Sejarah Indonesia membuktikan bahwa kyai berideologi komunis dan seorang haji berhaluan PKI, bukan hal yang mustahil.

Komunisme dan PKI sebagai wadah perjuangan politik, jauh sebelum Indonesia merdeka dilakukan oleh kyai haji maupun santri. Dan justru merekalah yang sangat keras permusuhannya terhadap Islam dan kaum muslimin. Akibat ideologi komunis yang dibungkus paham agama, para kyai dan santri PKI ini menjadi sangat radikal.

Maka bukan hil yang mustahal bagi seorang kepala BPIP, seperti Yudian Wahyudi sangat keras terhadap gerakan Islam sekalipun dia tergolong santri dan bahkan rektor kampus UIN. Dialah orangnya yang secara sadar mengatakan, “musuh terbesar pancasila adalah agama”. Sebab sejarah bangsa ini mencatat komunisme bisa menjangkit pada seorang santri atau kyai.

Kyai PKI dari Pesantren Kasingan

Contoh sejarahnya adalah KH. Achmad Dasuki Siradj. Riwayat pendidikannya kental dengan pesantren. Pendidikan dasarnya ditempuh di Pondok Pesantren Djansaren (tingkat Ibtidaiyah), Madrasah Manbaul Ulum Surakarta (tingkat Tsanawiyah) dan Pondok Pesantren Kasingan Rembang (tingkat Aliyah). Tapi kemudian, dia menjadi tokoh besar PKI era Musso maupun era Soekarno.

Ahmad Dasuki Siradj mengaku, menjadikan PKI sebagai jalan perjuangannya di jalan Allah.

“Menurut pengalaman saya yang telah 33 tahun di dalam Partai Komunis Indonesia (PKI) hanya di situ itulah (baca: PKI) tempat mengamalkan hukum Allah dalam arti politik, bukan ditempat lainnya. Apabila Saudara yang terhormat memang dengan sungguh-sungguh hati menjalankan hukum Allah dan beramal dengan ikhlas marilah bersama dengan saya di dalam lingkungan Partai Komunis Indonesia (PKI),” tegas Kyai Siradj dalam Sidang Konstituante.

Haji Berhaluan PKI

Selain KH. Achmad Dasuki Siradj, di Solo ada juga tokoh komunis bergelar Haji, yang ketokohannya disejajarkan dengan Semaun dan Tan Malaka. Namanya H. Mohammad Misbach atau Haji Misbach. Selain meyakini kebenaran ajaran Islam, ia juga dikenal sebagai penganut setia komunisme. Misbach sangat mengagumi kepribadian Nabi Muhammad sekaligus mengidolakan Karl Marx. Maka ia disebut juga dengan panggilan “Haji Merah”, atau “Haji Marxis”.

Di masa sekarang, banyak juga kyai yang, mungkin tanpa sadar, terpapar pemikiran sesat KH. Achmad Dasuki Siradj. Sebut saja misalnya KH. Said Aqil Siraj yang mengaggap bahaya laten radikalisme lebih mengancam ketimbang komunisme.

Dalam seminar virtual, Said Agil Siradj mengatakan, “Mohon maaf, saya berani mengatakan bukan PKI bahaya laten kita, tapi radikalisme dan terorisme yang selalu mengancam kita sekarang ini,” katanya pada Selasa (30/3/2021).

“Adapun pintu masuk radikalisme adalah paham Wahabi dan Salafi,” katanya yakin.

Jadi, adanya kyai yang kata dan prilakunya terkesan membela dan melindungi komunis, memang terdengar aneh. Tapi sikap demikian memiliki benang merah dalam perjalanan sejarah bangsa Indonesia.

Tak hanya itu, kyai yang berprofesi sebagai ketua ormas Islam, dan belum lama ditunjuk sebagai komisaris utama PT KAI ini, mengusulkan supaya para dosen agama di fakultas umum tingkat universitas untuk tidak terlalu banyak mengajarkan Aqidah dan Syariah. Menurutnya, hal itu dapat meningkatkan risiko peningkatan radikalisme.

“Bagi dosen agama yang mengajar agama di bukan fakultas agama, tidak usah banyak-banyak bincang akidah dan syariah. Cukup dua kali pertemuan. Rukun iman dan [rukun] Islam,” katanya dalam sebuah diskusi daring, Senin (5/4/2021).

“Kenapa? Kalau ini diperbanyak, nanti isinya, surga-neraka, Islam, kafir, lurus, benar, sesat. Terus-terusan bicara itu radikal jadinya,” ucap dia.

“Agama bukan dari langit, tapi dari manusia sendiri,” imbuhnya lagi.

Maka, rakyat Indonesia harus terus waspada dan cerdas menghadapi bahaya kebangkitan PKI di negeri ini. Karena bukan hanya propaganda tokoh tak beragama, bahkan ucapan seorang kyai maupun santri bisa menjadi pintu masuk komunisme dan kebangkitan PKI di bawah rezim Jokowi. []

*) source:
https://www.sejarahone.id/fenomena-kyai-komunis-dan-haji-komunis/

Kamis, 25 Maret 2021

14 Tahun Gadai Nyawa di Medan Perang, Ini Kisah Jenderal TNI Ryamizard Ryaccudu

14 Tahun Gadai Nyawa di Medan Perang, Ini Kisah Jenderal TNI Ryamizard Ryaccudu

CMBC Indonesia - Sosoknya dikenal sangat tegas dan tak suka basa-basi. Pengalamannya di banyak medan pertempuran, menjadikan karakter pemimpin yang dimilikinya semakin kuat. Hingga akhirnya, ia menyandang status sebagai orang nomor satu di jajaran TNI Angkatan Darat.

Sepanjang 31 kariernya bersama Tentara Nasional Indonesia Angkatan Darat (TNI AD), sosok ini pernah menduduki sejumlah posisi strategis. Tak hanya di komando teritorial, ia juga pernah menjadi pimpinan di banyak satuan tempur. Siapakah sosok itu? Siapa lagi kalau bukan Jenderal TNI (Purn.) Ryamizard Ryacudu.

Ryamizard adalah jebolan Akademi Angkatan Bersenjata Republik Indonesia (AKABRI) tahun 1974, yang juga rekan satu angkatan mantan Panglima Komando Cadangan Strategis TNI Angkatan Darat (Pangkostrad) yang saat ini menjabat sebagai Menteri Pertahanan RI, Letjen TNI (Purn.) Prabowo Subianto Djojohadikusumo.

Simak kisah lengkap Jenderal TNI Ryamizard Ryaccudu dalam video berikut ini,



Jumat, 19 Maret 2021

Angkat Dirinya sebagai Presiden Seumur Hidup, Soekarno Beberapa Kali jadi Sasaran Pembunuhan

Angkat Dirinya sebagai Presiden Seumur Hidup, Soekarno Beberapa Kali jadi Sasaran Pembunuhan


TAHUN 1931, Bung Karno yang menyadari perjuangannya harus melalui organisasi lalu bergabung dengan Partindo. Pengalamannya pernah ditangkap dan dipenjara tak membuat jera.

Aktivitas Bung Karno dilakukan tanpa sembunyi-sembunyi. Bung Karno bahkan menjadi pemimpin Partindo dan lagi-lagi membuat gusar Belanda.

Tahun 1933 Bung Karno kembali ditangkap Belanda dan dibuang ke Ende, Flores selanjutnya dipindahkan ke Bengkulu. Pengucilan di tempat yang sangat jauh dari Jakarta itu bertujuan agar pengaruh Bung Karno lenyap.

Tapi Belanda keliru sebab selama di Flores, Bung Karno tetap melakukan ‘perlawanan gerilya’ dengan cara mengirim surat-surat dan korespondensi dengan tokoh pergerakan yang ada di Jakarta secara sembunyi-sembunyi.

Di Ende, Bung Karno yang dibuang bersama istrinya, Inggit Gunarsih, ibu mertua dan anak angkatnya, Ratna Juami mengisi kegiatan kesehariannya dengan membaca, menulis buku, melukis, memahat, dan bersemedi.

Buku yang ditulisnya di bawah pohon sukun bercabang lima bertajuk Bung Karno, Ilham, Dari Flores Untuk Nusantara sangat digemari oleh masyarakat Flores.

Bahkan gagasan tentang Pancasila yang secara resmi diumumkan pada tanggal 1 Juni 1945 berasal dari permenungan Bung Karno saat berada di bawah pohon sukun.

Bung Karno yang telah diasingkan lebih dari empat tahun baru dibebaskan setelah Jepang masuk Indonesia tahun 1942.

Kendati Indonesia kini dikuasai oleh penjajah yang mengaku sebagai saudara tua dan menjanjikan kemerdekaan, Bung Karno tetap berprinsip bahwa kemerdekaan harus diperjuangkan secara mandiri dan bukan karena diberi.

Pada awal masa penjajahan Jepang keberadaan para tokoh Indonesia sempat terabaikan mengingat saat itu kekuatan Jepang begitu mendominasi di seluruh Asia Tenggara.

Untuk menarik hati penduduk Indonesia yang akan digalang sebagai kekuatan bersenjata melawan Sekutu, Jepang mulai memperhatikan berbagai organisasi dan para tokohnya seperti Jawa Hookokai, Pusat Tenaga Rakyat, BPUPKI, dan PPKI.

Sedangkan tokoh-tokoh yang yang berusaha dirangkul antara lain Bung Hatta, Ki Hajar Dewantara, KH Mas Mansyur, dan termasuk Bung Karno sendiri.

(Baca juga: (Foto) Bak Gudang Fashion, Inilah Lemari Seluas 65 Meter Persegi Milik Sosialita Asal Singapura)

Organisasi dan para tokoh itu sama-sama memperjuangkan kemerdekaan Indonesia secara terbuka dan mendapat sambutan positif Jepang.

Tanggapan positif bahkan diberikan langsung oleh Kaisar Jepang Hirohito dengan memberikan Bintang Kekaisaran kepada tiga tokoh yang saat itu diundang langsung ke Jepang, Bung Karno, Bung Hatta, dan Ki Bagoes Hadikoesoema.

Namun ada juga organisasi yang melakukan gerakan bawah tanah kerena mereka menganggap Jepang adalah penjajah dan fasis yang berbahaya.

Anggapan yang sesungguhnya mendekati kebenaran itu dilakukan oleh Sutan Syahrir dan Amir Sjarifuddin.



Tapi saat Jepang menyerah kalah kalah kepada Sekutu organisasi yang kooperatif dengan Jepang justru mendapat peluang besar untuk memproklamirkan kemerdekaan.

Setelah melalui perjuangan dan pergulatan politik yang panjang Bung Karno dan Bung Hatta berhasil memproklamirkan kemerdekaan RI pada tanggal 17 Agustus 1945. S

atu hari kemudian keduanya diangkat oleh PPKI menjadi Presiden dan Wakil Presiden RI.

Pada 29 Agustus 1945 pengangkatan presiden dan wakilnya itu dikukuhkan lagi oleh KNIP.

Keduanya mulai dikenal sebagai pasangan yang legendaris dan pamor kewibawaan Bung Karno yang jago orasi juga makin bersinar.

Kewibawaan Bung Karno teruji ketika rapat raksasa di Lapangan Ikada digelar dan dihadiri lebih 200.000 orang.

Rapat yang dijaga tentara Jepang bersenjata lengkap itu berlangsung aman berkat orasi Bung Karno yang mampu mengendalikan massa.

Pasca kemerdekaan Bung Karno masih menghadapi banyak tantangan yang justru lebih berat.

Pasukan Sekutu yang masuk ke Indonesia untuk melucuti pasukan Jepang dan membebaskan tawanan perang malah menimbulkan masalah baru karena diboncengi oleh NICA, Belanda.

Kehadiran Belanda yang ingin menjajah lagi akhirnya memunculkan konflik baru mulai dari Pertempuran 10 November Surabaya hingga agresi militer Belanda kedua pada tahun 1948 yang berhasil menawan Bung Karno-Bung Hatta.

Pemerintahan Bung Karno sampai kocar-kacir dan harus berpindah tempat serta berubah sistem.

Tapi berkat perjuangan fisik dan diplomasi internasional Bung Karno-Bung Hatta kembali lagi memimpin Negara Kesatuan RI pada 17 Agustus 1950.

Roda pemerintahan RI di bawah pimpinan Bung Karno-Bung Hatta mulai berjalan melaju.

Visi Bung Karno tak hanya memajukan bangsa tapi juga banyak memberikan gagasan-gagasan di dunia internasional.

Tahun 1955 Bung Karno mengambil inisiatif untuk mengadakan Konferensi Asia-Afrika di Bandung yang kemudian menjadi gerakan Non-Blok.

Prinsip Non Blok yang melandasi hubungan internasional Indonesia dengan negara lain itu bahkan masih dilestarikan hingga saat ini.

Gerakan Non Blok yang berlangsung di sejumlah negara Afrika berakibat sangat positif.

Beberapa negara memperoleh kemerdekaannya tanpa melalui kekerasan berkat gerakan Non Blok sehingga nama Soekarno cukup populer di Asia-Afrika.

Tak hanya itu untuk menjalankan politik Non Blok dan politik luar negeri yang bebas aktif Bung Karno juga mengunjungi berbagai negara dan bertemu dengan pemimpin-pemimpin negara yang berkaliber dunia.

Di antaranya Nikita Khrushchev (Uni Soviet), John F. Kennedy (AS), Fidel Castro (Kuba), Mao Tse-Tung (China), dan lainnya. Nama Bung Karno makin populer di tingkat internasional.

Setelah mengukir sejumlah prestasi, mulai tahun 1955 Bung Karno menghadapi guncang lagi.

Demi memenuhi kebutuhan membentuk Badan Konstituante untuk menyusun konstitusi baru Bung Karno menyetujui penyelenggaraan Pemilu.

Hasil dari pemilu yang pertama sekaligus terakhir bagi Bung Karno itu memunculkan empat partai pemenang seperti PSI, Masjumi, NU serta PKI.

Ketika empat partai itu mulai bersidang untuk menyusun UUD baru yang terjadi justru konflik yang berkepanjangan dan mengancam kesatuan negara termasuk kredibilitas Bung Karno sendiri.

Untuk mengatasi kemelut dan negara yang berada di ambang perpecahan, dengan dukungan Angkatan Darat, Bung Karno mengumumkan dekrit 5 Juli 1959 yang isinya membubarkan Badan Konstituante dan kembali ke UUD 1945.

Bung Karno bahkan mengangkat dirinya sebagai presiden seumur hidup sehingga memunculkan rasa ketidakpuasan, keadaan ekonomi yang morat-marit, dan pemberontakan PRRI/Permesta yang melibatkan tokoh-tokoh PS serta Masjumi.

Kedua partai ‘pemberontak’ itu lalu dibubarkan oleh Bung Karno dengan akibat sejumlah upaya pembunuhan terhadap presiden.

Sejumlah upaya pembunuhan itu antara lain pelemparan granat terhadap rombongan Bung Karno di Cikini, Jakarta (November 1957) dan penembakkan menggunakan jet tempur oleh Daniel Maukar (Maret 1960).

Upaya pembunuhan terhadap Bung Karno lainnya adalah penembakan di Rajamandala, Cianjur ( April 1960)), dan pelemparan granat di Makasaar (Januari 1962).

Penembakan terhadap Bung Karno yang gagal di komplek Istana Presiden, Jakarta (Mei 1962), serangan mortir saat Bung Karno berkunjung ke Sulawesi ( 1960), serta serangan granat rombongan presiden di Cimanggis, Bogor (Desember 1964). []

Jumat, 12 Maret 2021

Sabdopalon Ramalkan Pageblug di Pulau Jawa, Pagi Sakit Sore Mati!

Sabdopalon Ramalkan Pageblug di Pulau Jawa, Pagi Sakit Sore Mati!


CMBC Indonesia - Kejatuhan Majapahit ditandai dengan candrasengkala yang berbunyi "sirna ilang kretaning bumi " dibaca sebagai 0041, yaitu tahun 1400 Saka atau 1478 Masehi.

Arti sengkala ini adalah “sirna hilanglah kemakmuran bumi”. Ada yang mengatakan bahwa candrasengkala tersebut adalah gugurnya Bre Kertabumi atau Brawijaya V raja ke-11 Majapahit oleh Girindrawardhana.

"Padahal Brawijaya V sebenarnya tidak gugur, ketika Keraton majapahit diserang, Brawijaya V lolos dari kepungan prajurit Girindrawardhana. Dia menyamar sebagai pendeta Budha, kabur bersama abdi dalemnya Sabdopalon Noyogenggong. Mereka mempunyai tujuan ke Gunung Lawu. Sehingga Brawijaya dikenal dengan nama Eyang Lawu," ujar Mas Syarif Hidayat, paranormal yang tinggal di Jababeka, Cikarang, Bekasi.

Sabdopalon itu abdidalem yang sakti mandraguna. Mas Syarif Hidayat mengatakan, Sabdopalon akan pergi selama 500 tahun. Kemudian, Sabdo Palon menyatakan janjinya akan datang kembali di bumi Tanah Jawa (tataran nusantara) dengan tanda-tanda tertentu.

Tanda utama itu adalah muntahnya lahar gunung Merapi ke arah barat daya. Baunya tidak sedap. Dan juga kemudian diikuti bencana-bencana lainnya. Itulah tanda Sabdo Palon telah datang. Dalam dunia pewayangan keadaan ini dilambangkan dengan judul, “Semar Ngejawantah”.

Secara hakekat nama “Sabdo Palon Noyo Genggong” adalah simbol dua satuan yang menyatu, yaitu Hindu – Budha (Syiwa Budha). Di dalam Islam dua satuan ini dilambangkan dengan dua kalimat Syahadat.

Di Bali hal ini dilambangkan dengan apa yang kita kenal dengan “Sad Kahyangan Jagad”. Artinya dalam kejadian ini delapan kekuatan dewa-dewa menyatu, menyambut dan menghantarkan Sang Hyang Ismoyo (Sabdo Palon) untuk turun ke bumi.

Di dalam kawruh Jawa, Sang Hyang Ismoyo adalah sosok dewa yang dihormati oleh seluruh dewa-dewa. Dan gunung Merapi di sini melambangkan hakekat tempat atau sarana menitisnya dewa ke bumi.

"Hal ini berhubungan dengan ramalan Sabdopalon tentang tanah jawa. Sang Prabu Brawijaya mengadakan pertemuan dengan Sunan Kalijaga didampingi oleh Punakawannya yang bernama Sabda Palon Naya Genggong. Mereka berbicara, Sabdopalon mengatakan, kelak waktunya paling sengsara di tanah Jawa , "paparnya.

Umpama seorang menyeberang sungai sudah datang di tengah-tengah. Tiba-tiba sungainya banjir besar, dalamnya menghanyutkan manusia sehingga banyak yang meninggal dunia.

Bahaya yang mendatangi tersebar seluruh tanah Jawa. Itu sudah kehendak Tuhan tidak mungkin disingkiri lagi. Sebab dunia ini ada ditanganNya. Hal tersebut sebagai bukti bahwa sebenarnya dunia ini ada yang membuat.

Bermacam-macam bahaya yang membuat tanah Jawa rusak. Orang yang bekerja hasilnya tidak mencukupi. Para priyayi banyak yang susah hatinya. Saudagar selalu menderita rugi. Orang bekerja hasilnya tidak seberapa. Orang tani demikian juga. Penghasilannya banyak yang hilang di hutan.

Bumi sudah berkurang hasilnya. Banyak hama yang menyerang. Kayupun banyak yang hilang dicuri. Timbullah kerusakan hebat sebab orang berebutan. Benar-benar rusak moral manusia.

"Bila hujan gerimis banyak maling tapi siang hari banyak begal. Manusia bingung dengan sendirinya sebab rebutan mencari makan,"ungkapnya.

Mereka tidak mengingat aturan negara sebab tidak tahan menahan keroncongannya perut.

"Hal tersebut berjalan disusul datangnya musibah pagebluk yang luar biasa. Penyakit tersebar merata di tanah Jawa. Bagaikan pagi sakit sorenya telah meninggal dunia. Bahaya penyakit luar biasa. Di sana-sini banyak orang mati "bebernya.

Hujan tidak tepat waktunya. Angin besar menerjang sehingga pohon-pohon roboh semuanya. Sungai meluap banjir sehingga bila dilihat persis lautan pasang. Seperti lautan meluap airnya naik ke daratan. Merusakkan kanan kiri. Kayu-kayu banyak yang hanyut. Yang hidup di pinggir sungai terbawa sampai ke laut. Batu-batu besarpun terhanyut dengan gemuruh suaranya.

Gunung-gunung besar bergelegar menakutkan. Lahar meluap ke kanan serta ke kiri sehingga menghancurkan desa dan hutan. Manusia banyak yang meninggal sedangkan kerbau dan sapi habis sama sekali. Hancur lebur tidak ada yang tertinggal sedikitpun.

Gempa bumi tujuh kali sehari, sehingga membuat susahnya manusia. Tanahpun menganga. Muncullah brekasakan yang menyeret manusia ke dalam tanah.

"Manusia-manusia mengaduh di sana-sini, banyak yang sakit. Penyakitpun rupa-rupa. Banyak yang tidak dapat sembuh. Kebanyakan mereka meninggal dunia," ucapnya. (*)
© Copyright 2019 cmbcindonesia.com | All Right Reserved