Kesehatan

Senin, 20 Desember 2021

Pfizer Prediksi Pandemi Covid-19 Baru Selesai pada 2024, Ini Alasannya

Pfizer Prediksi Pandemi Covid-19 Baru Selesai pada 2024, Ini Alasannya

CMBC Indonesia - Pandemi Covid-19 tak akan hilang sampai tahun 2024, menurut prediksi Pfizer pada Jumat (17/12). Vaksin versi dosis rendah untuk anak 2-4 tahun pun menghasilkan respons kekebalan yang lebih lemah dari yang diperkirakan. Akibatnya, otorisasi berpotensi mengalami penundaan.

Dilansir dari Reuters, diperkirakan sejumlah daerah akan terus mengalami kenaikan kasus Covid-19 selama 1-2 tahun ke depan. Sementara itu, negara lainnya akan beralih ke 'endemik' dengan beban kasus yang rendah dan dapat dikendalikan selama periode waktu yang sama.

Pada tahun 2024, penyakit ini akan menjadi endemik di seluruh dunia.

"Kapan dan bagaimana tepatnya ini terjadi akan tergantung pada evolusi penyakit, seberapa efektif masyarakat mengerahkan vaksin dan perawatan, serta disribusi yang adil ke tempat dengan tingkat vaksinasi yang rendah. Munculnya varian baru juga dapat berdampak pada bagaimana pandemi terus berlanjut," terang Mikael Dolsten, kepala staf sains Pfizer.

Pfizer mengaku sedang menguji vaksin 3 dosis untuk semua kelompok usia di bawah 16 tahun, termasuk anak usia 2-4 tahun. Data dari kelompok usia ini sebelumnya diharapkan bisa didapat tahun ini. Namun, ternyata terjadi penundaan yang sontak mengubah rencana untuk mengajukan otorisasi penggunaan darurat pada kuartal kedua tahun 2022.

"Data menggambarkan dampak booster dan vaksin kami bekerja paling efektif dengan 3 dosis utama," kata kepala petugas ilmiah Mikael Dolsten.

Pfizer mengembangkan vaksin Covid-19 bersama BioNTech Jerman. Perusahaan ini telah mengembangkan versi vaksin mereka yang dirancang untuk memerangi varian Omicron yang menyebar cepat. Meski begitu, mereka belum memastikan apakah itu akan dibutuhkan. Mereka ingin memulai uji klinis untuk vaksin terbaru ini pada bulan Januari, menurut eksekutif Pfizer.

Perusahaan itu saat ini berharap vaksin menghasilkan pendapatan sebesar USD 31 miliar (Rp445 triliun) tahun depan. Jika diperlukan, suntikan khusus Omicron dapat meningkatkan penjualan pada tahun 2022.

Pfizer dan BioNTech menguji dosis 3 mikrogram vaksinnya pada anak usia 2-5 tahun. Sebelumnya, mereka menggunakan dosis 10 mikrogram pada anak usia 5-11 tahun dan dosis 30 mikrogram pada semua orang di atas 12 tahun.

Pada anak usia 6-24 bulan, vaksin versi dosis rendah menghasilkan respons imun yang konsisten dengan penerima vaksin anak yang lebih tua, menurut pernyataan perusahaan itu.

Jika penelitian 3 dosis selesai, Pfizer dan BioNTech berharap dapat mengirimkan datanya kepada regulator untuk mendukung Otorisasi Penggunaan Darurat bagi anak usia 6 bulan-5 tahun pada paruh pertama tahun 2022.[akurat]

Sabtu, 18 Desember 2021

Penelitian Terbaru: Omicron Berkembang 70 Kali Lebih Cepat dari Delta, Lolos dari Kekebalan Vaksin

Penelitian Terbaru: Omicron Berkembang 70 Kali Lebih Cepat dari Delta, Lolos dari Kekebalan Vaksin

CMBC Indonesia - Penelitian terbaru menunjukkan bahwa Omicron berkembang biak lebih cepat di saluran udara dan lebih lambat di paru-paru.

Pada Rabu (15/12/2021), para peneliti mengatakan terdapat perbedaan utama antara Omicron dengan varian lain virus corona terkait seberapa efisien dalam berkembang biak yang dapat membantu memprediksi efek Omicron.

Dikutip dari reuters.com, Omicron berkembang 70 kali lebih cepat di jaringan pelapis saluran udara dan menyebarkan dari satu orang ke orang lainnya.

Perkembangan Omicron ini dinilai lebih cepat dibandingkan dengan varian Delta.

Namun, pada jaringan paru-paru, Omicron bereplikasi 10 kali lebih lambat, yang kemungkinan tidak terlalu parah.

Di sisi lain, penelitian ini sedang dalam tinjauan untuk publikasi dan belum dirilis oleh tim peneliti.

Omicron sebagian dapat lolos dari kekebalan vaksin

Kemudian, dalam rilis berita yang dikeluarkan oleh Universitas Hong Kong, pemimpin studi Dr Michael Chan Chi-wai mengatakan, tingkat keparahan penyakit pada manusia tidak hanya ditentukan oleh replikasi virus, tetapi juga oleh respons imun setiap orang terhadap virus.

Adanya infeksi terkadang berkembang menjadi peradangan yang mengancam jiwa.

Chan menambahkan, "Dengan menginfeksi lebih banyak orang, virus yang sangat menular dapat menyebabkan penyakit dan kematian yang lebih parah, meskipun virus itu sendiri mungkin kurang patogen."

Selain itu, penelitian terbaru juga menunjukkan bahwa varian Omicron sebagian dapat lolos dari kekebalan vaksin.

Kemudian, dari infeksi sebelumnya, ancaman keseluruhan dari varian Omicron kemungkinan akan sangat signifikan.

Omicron mencengkeram sel lebih erat dan menahan beberapa antibodi.

Menurut para peneliti, varian Omicron yang menempel pada sel dan antibodi menjelaskan perilakunya dan akan membantu dalam merancang antibodi penetralisir.

Dengan menggunakan model komputer dari protein lonjakan pada permukaan Omicron, para peneliti menganalisis interaksi molekuler.

Interaksi ini terjadi ketika lonjakan mencapai protein permukaan sel yang disebut ACE2, pintu gerbang virus ke dalam sel.

Omicron menyerang antibodi dari berbagai sisi

Menurut Joseph Lubin dari Rutgers University di New Jersey, secara metaforis, virus asli bertaut dengan ACE2, sedangkan cengkeraman Omicron saling terikat.

Lubin menambahkan, mutasi Omicron bekerja sama untuk membantu menginfeksi sel.

Tim peneliti juga memversikan lonjakan dengan berbagai kelas antibodi yang mencoba menyerangnya.

Serangan antibodi dari berbagai sisi, dapat diserang dari arah belakang dan adapula yang menyerang bagian depan.

Beberapa antibodi seperti terguncang, sementara yang lain cenderung tetap efektif.

Hasil temuan yang diposting pada Senin (13/12/2021) di situs web bioRxiv sebelum ditinjau lebih lanjut, perlu diverifikasi.

Orang yang terinfeksi tidak sadar menyebarkan virus

Empat dari 10 orang yang terinfeksi mungkin secara tidak sadar menyebarkan virus.

Orang yang terinfeksi dan tidak menunjukkan gejala mungkin secara signifikan dapat menularkan SARS-CoV-2, virus penyebab Covid-19.

Menurut sebuah penelitian yang diterbitkan online pada Selasa (14/12/2021) di jurnal JAMA Network Open, hal ini mengingatkan bahwa mereka menyumbang 40,5 persen dari infeksi yang dikonfirmasi di seluruh dunia.

Selain itu, para peneliti juga mengumpulkan data dari 77 penelitian sebelumnya yang melibatkan total 19.884 orang yang terkonfirmasi infeksi SARS-CoV-2.

Mereka menemukan di antara orang yang terinfeksi di masyarakat umum, sekitar 40 persen tidak menunjukkan gejala, seperti halnya 54 persen wanita hamil yang terinfeksi dan 53 persen pelancong udara atau kapal pesiar yang terinfeksi.

Lalu, 48 persen penghuni atau staf panti jompo yang terinfeksi dan 30 persen layanan kesehatan yang terinfeksi pekerja atau pasien rawat inap.

Kemudian, persentase gabungan infeksi tanpa gejala adalah sekitar 46 persen di Amerika Utara, 44 persen di Eropa, dan 28 persen di Asia.

"Persentase tinggi infeksi tanpa gejala menyoroti potensi risiko penularan infeksi tanpa gejala di masyarakat," tulis Min Liu dan tim di Universitas Peking, China.

Pemerintah harus menyaring masyarakat yang terinfeksi tanpa gejala dan mereka yang diidentifikasi, termasuk isolasi dan pelacakan kontak.[tribunnews]

Jumat, 17 Desember 2021

Varian Omicron Masuk Indonesia, Luhut Panjaitan Langsung Bersuara dan Pimpin Rakor, Ini Hasilnya

Varian Omicron Masuk Indonesia, Luhut Panjaitan Langsung Bersuara dan Pimpin Rakor, Ini Hasilnya

CMBC Indonesia - Koordinator PPKM Jawa dan Bali, Luhut Binsar Panjaitan, bersuara dan menanggapi masuknya varian Omicron ke Indonesia. Luhut Panjaitan langsung memimpin rakor.

Varian Omicron yang sudah masuk ke tanah air direspon cepat oleh Menteri Koordinator Bidang Maritim dan Investasi Luhut Binsar Panjaitan.

Menko Luhut Panjaitan bahkan telah menggelar rapat koordinasi (rakor) dengan kementerian terkait untuk mengantisipasi meluasnya penyebaran varian Omicron ini.

“Betul, Pak Luhut telah memimpin rakor terkait penanganan penemuan varian Omicron pertama di Indonesia bersama jajaran terkait,” Jurubicara Luhut Panjaitan, Jodi Mahardi, Jumat (17/12).

Ditegaskan Jodi bahwa Menko Luhut sangat hati-hati sekali dengan kemunculan varian Omicron.

Ini lantaran Indonesia adalah negara yang begitu besar dan kemungkinan potensi masuknya Omicron juga sangat besar.

Fokus Menko Luhut, sambung Jodi, adalah berupaya menekan angka kematian. Sebab, di satu sisi akan sulit jika harus fokus menekan angka kasus positif.

“Pak Menko menyampaikan bahwa agak sulit untuk zero case, namun sekarang kita menekan agar zero hospitalisation dan death case akibat varian Omicron di Indonesia,” tegasnya.

“Selain itu vaksinasi juga harus terus dikejar hingga 100 persen dan tetap taat prokes begitu,” kata Jodi Mahardi.[pojoksatu]

Studi di Afrika Selatan Buktikan Omicron Mampu Menembus Tubuh Orang yang Sudah Dibooster

Studi di Afrika Selatan Buktikan Omicron Mampu Menembus Tubuh Orang yang Sudah Dibooster

CMBC Indonesia - Muncul kekhawatiran virus corona varian Omicron dapat menembus perlindungan vaksin Covid-19, termasuk vaksin booster.

Ini terjadi karena lewat penelitian kecil di Afrika Selatan terhadap tujuh kasus varian Omicron, menunjukan varian baru virus corona tersebut mampu menembus perlindungan vaksin booster Covid-19.

Tujuh kasus Omicron ini terdeteksi pada tujuh pendatang dari Jerman ke Cape Town, berusia antara 25 hingga 39 tahun. Ketujuh orang ini terinfeksi pada akhir November hingga awal Desember lalu.

Ditemukan ketujuh orang ini semuanya hanya menderita gejala ringan hingga sedang, dan tidak ada yang perlu dirawat di rumah sakit.

Adapun dari tujuh kasus itu, semuanya sudah divaksinasi lengkap, sekaligus sudah mendapatkan dosis vaksin booster.

Rinciannya, enam orang sudah vaksinasi lengkap menggunakan vaksin Pfizer-BioNTech.

Dari enam orang itu lima orang diantaranya mendapatkan booster vaksin Pfizer. Lalu satu orang sudah vaksinasi lengkap dengan Pfizer, menerima booster vaksin Moderna.

Lalu satu orang orang sudah menerima vaksinasi lengkap dengan AstraZeneca, ditambah booster dengan vaksin Pfizer.

Sedangkan ketujuh orang yang terinfeksi varian Omicron ini, sebelumnya belum pernah terinfeksi Covid-19. Infeksi diperkirakan terjadi antara satu hingga dua bulan setelah menerima suntikan booster.

Mengutip Channel News Asia, Jumat (17/12/2021), salah satu peneliti, Wolfgang Preiser, Ahli virologi Universitas Stellenbosch mengatakan bahwa penelitian ini sedang ditinjau oleh rekan peneliti sejawat.

Ia juga menyebutkan bahwa penelitian ini menunjukan bahwa infeksi varian Omicron masih bisa terjadi dan menimbulkan gejala (simtomatik), meskipun telah mendapatkan vaksinasi booster.

Meski begitu, studi global yang jauh lebih besar dengan 581 partisipan Inggris menunjukan vaksin booster secara signifikan mampu memberikan perlindungan gejala ringan yang sebabkan varian Omicron.

Tapi hasil penelitian juga menunjukan varian Omicron bisa menurunkan efektivitas vaksin. Apalagi Omicron lebih mudah menular, karena bisa menyebar dengan cepat.

"Vaksin masih bisa melindungi dari dampak penyakit yang parah dan menyebabkan kematian, kami cukup yakin dengan itu," terang Preiser.[suara]

Pasca Divaksin, Pelajar di Pandeglang Alami Demam Tinggi Berkepanjangan, Tubuhnya Kurus Kering

Pasca Divaksin, Pelajar di Pandeglang Alami Demam Tinggi Berkepanjangan, Tubuhnya Kurus Kering

CMBC Indonesia - Yoga Aljabar (15) pelajar asal Kecamatan Pagelaran, Kabupaten Pandeglang, kini hanya bisa terbaring lemas di rumahnya. Ia mengalami demam tinggi berkepanjangan, yang menyebabkan tubuhnya kurus mengering, pasca disuntik vaksin Covid-19.

Kondisi yang dialami oleh Yopa itu diduga karena mengalami Kejadian Ikutan Pasca Imunisasi alias KIPI setelah mendapatkan suntikan vaksin Covid-19 dosis pertama di sekolahnya dua bulan yang lalu.

Kondisi Yoga dibenarkan oleh Titin, ibunda dari Yopa. Katanya, karena mengalami demam dan tidak kunjung membaik, Yoga pun terpaksa tidak bisa mengikuti pelajaran di sekolahnya selama dua bulan.

"Anak saya jadi gini (sakit,-red) setelah di vaksin covid-19. Waktu dia pulang itu badannya langsung panas aja," kata Titin kepada wartawan, Rabu (15/12/2021).

Padahal Yopa sendiri dikenal sebagai anak yang aktif dan tidak memiliki riwayat penyakit apapun, dan saat mengikuti vaksinasi yang digelar di balai Desa wilayah Kecamatan Pagelaran pada bulan Oktober itu kondisinya sehat. 

"Saya kira Yopa sakit biasa, paling masuk angin. Makanya waktu panas itu saya cuma kasih obat warung paracetamol. Tapi ko sekarang ga sembuh-sembuh," kata Titin.

Setelah beberapa hari tidak kunjung sembuh, dirinya pun membawa Yopa ke Puskesmas Pagelaran agar bisa mendapatkan perawatan, sehingga Yopa bisa sembuh kembali. 

"Sudah dibawa ke Puskemas dan dikasih obat. Tapi sampai sekarang anak saya belum juga sembuh," tandasnya.

Dirinya pun kini hanya bisa pasrah dan berharap agar anaknya bisa cepat pulih dan beraktivitas seperti sedia kala. [poskota]

Kamis, 16 Desember 2021

Telah Diketahui Penyebab Omicron Lebih Cepat Menular Namun Miliki Gejala Lebih Ringan

Telah Diketahui Penyebab Omicron Lebih Cepat Menular Namun Miliki Gejala Lebih Ringan

CMBC Indonesia - Dibanding dengan varian Delta, virus corona varian Omicron bermutasi 70 kali lebih cepat di jaringan yang memperluas saluran udara. Faktor itu juga yang menyebabkan penularan infeksi Covid-19 varian Omicron lebih cepat terjadi.

Tapi di sisi lain, perkembangbiakan varian Omicron di jaringan paru-paru 10 kali lebih lambat daripada versi asli virus corona. Peneliti menduga hal itu memnungkinkan gejala Covid-19 varian Omicron tidak terlalu parah.

Meski begitu, jurnal ilmiah dari Universitas Hong Kong yang dipimimpin oleh Dr Michael Chan Chi-wai mencatat bahwa tingkat keparahan infeksi Covid-19 tidak hanya ditentukan replikasi atau perkembangbiakkan virus tetapi juga oleh respon imun setiap orang terhadap virus corona.

Infeksi yang terus berkembang berisiko mengakibatkan peradangan dalam tubuh akibatnya bisa mengancam jiwa.

"Dengan menginfeksi lebih banyak orang, virus yang sangat menular dapat menyebabkan penyakit dan kematian yang lebih parah meskipun virus itu sendiri mungkin kurang patogen."

"Oleh karena itu, digabungkan dengan penelitian terbaru kami yang menunjukkan bahwa varian Omicron sebagian dapat lolos dari kekebalan dari vaksin dan antibodi alami, ancaman dari varian Omicron kemungkinan akan sangat signifikan," kata Chan, dikutip dari Channel News Asia.

Dengan menggunakan model komputer dari protein penemuan pada permukaan Omicron, para peneliti menganalisis interaksi molekuler yang terjadi ketika virus mencapai protein permukaan sel yang disebut reseptor ACE2, pintu gerbang virus ke dalam sel.

Tim peneliti juga memodelkan penemuan dengan berbagai kelas antibodi yang coba menyerang balik virus coron. Antibodi itu menyerang dari sudut yang berbeda.

"Seperti pertahanan tim sepak bola yang mungkin menjegal pembawa bola, fengan satu orang menyambar dari belakang, yang lain dari depan."

"Beberapa antibodi tampaknya akan kalah sementara yang lain cenderung tetap efektif. Vaksin booster meningkatkan tingkat antibodi, menghasilkan lebih banyak pelindung," jelas Joseph Lubin dari Rutgers University di New Jersey.[suara]

Senin, 13 Desember 2021

Kasus Covid-19 di Indonesia Menurun, Pakar: Bukan Semata Karena Vaksinasi

Kasus Covid-19 di Indonesia Menurun, Pakar: Bukan Semata Karena Vaksinasi

CMBC Indonesia - Dosen Fakultas Kedokteran Universitas Padjadjaran (Unpad) Dwi Agustian mengatakan penurunan kasus Covid-19 saat ini boleh jadi bukan hanya karena vaksinasi, tapi kombinasi dengan gelombang kedua. Sejauh ini cakupan vaksinasi Covid-19 di Indonesia belum mencapai 70 persen sebagai ambang batas teori kekebalan komunitas.

“Sehingga saya punya hipotesis yang belum teruji bahwa ini kemungkinan dihasilkan oleh gelombang besar populasi masyarakat yang terinfeksi lalu memiliki ketahanan varian Delta,” katanya dalam Satu Jam Berbincang Ilmu yang digelar daring oleh Dewan Profesor Universitas Padjadjaran, Sabtu sore, 11 Desember 2021.

Gelombang kedua kasus Covid-19 di Indonesia ditandai oleh lonjakan kasus harian sebanyak 56.757 orang pada 15 Juli 2021. Sebelum lonjakan itu, kata Dwi, pada Januari dimulai vaksinasi Covid-19 dan temuan varian Delta pada 3 Mei sebelum Hari Raya Idul Fitri.

Dari informasi yang diperolehnya, kasus Covid-19 pada Juli-Agustus 2021 disebabkan oleh virus yang tidak bervariasi. “Semua didominasi oleh varian Delta,” kata dosen dengan keahlian epidemiologi spasial itu. Tren kasus baru hariannya kemudian sangat jauh berkurang per 16 November lalu.  

Menurut Dwi, Indonesia tidak bisa mencegat masuknya varian Delta di bandara dengan aturan karantina selama 3 hari bagi orang yang tiba dari luar negeri. “Sehingga kita kecolongan dapat varian Delta,” kata ahli ilmu kesehatan masyarakat itu. Selain itu ada masalah pada sistem kesehatan sehingga banyak kasus Covid-19 yang tidak terlaporkan.

Tantangannya sekarang adalah dengan varian Omicron. Sejauh ini, Dwi mengatakan, dilaporkan belum ada temuan di Indonesia dari hasil pemeriksaan sampel yang ada. Sementara varian baru Covid-19 itu sudah ditemukan di Singapura. “Mampukah pemerintah Indonesia menjaga perbatasan dari varian baru ini,” katanya.

Kusnandi Rusmil, Guru Besar Unpad bidang kedokteran anak, yang ikut dalam diskusi, mengatakan bahwa beberapa orang menanyakan kenapa sekarang tidak ada lonjakan kasus ketiga. “Apakah karena herd immunity atau kebanyakan kita sudah tertular tanpa gejala jadi punya kekebalan,” katanya. Untuk menemukan jawabannya, muncul usulan riset pada kalangan sivitas akademika Unpad.

Dwi Agustian mengatakan, jumlah mahasiswa Unpad sekitar 30-40 ribu orang dan tersebar di berbagai daerah. Dari sampel populasi itu bisa dilihat kondisi kekebalan tubuh terhadap Covid-19 lewat pengambilan darah untuk diperiksa. “Itu data untuk menjawab pertanyaan,” kata Ketua Satuan Tugas Covid-19 Unpad itu. [tempo]

Sabtu, 04 Desember 2021

Luhut: Vaksin Booster Ketiga Mulai 2022, Ada yang Berbayar dan Gratis

Luhut: Vaksin Booster Ketiga Mulai 2022, Ada yang Berbayar dan Gratis

CMBC Indonesia - Menteri Koordinator bidang Kemaritiman dan Investasi (Menko Marves) Luhut Binsar Pandjaitan mengatakan vaksinasi COVID-19 dosis ketiga atau booster/ penguat akan berjalan pararel di semua provinsi di tanah air mulai Januari 2022. Vaksinasi dosis ketiga itu nantinya akan ada yang berbayar sebagian dan ada pula yang gratis.

"Nggak ada provinsi (prioritas), langsung paralel semuanya," kata Luhut seperti dilansir Antara, Sabtu (4/12/2021).

Luhut mengatakan vaksinasi COVID-19 booster akan diperoleh sebagian masyarakat Indonesia secara gratis dan sebagian lagi berbayar.

"Sebagian yang berbayar. Rakyat kita kelas bawah tidak bayar atau gratis, itu kira-kira 100 juta orang, yang lainnya bayar. Saya pasti bayarlah," kata Luhut.

Namun belum ditentukan harga vaksin tersebut, saat ini masih dihitung oleh Kementerian kesehatan. "Semuanya dianjurkan, diwajibkan untuk mendapatkan booster atau suntik ketiga," ujarnya.

Sementara itu, Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin menanggapi pernyataan Luhut. Budi mengatakan kisaran harga vaksin COVID-19 booster di bawah Rp 300 ribu.

"Mulainya tapi dari Pak Luhut ya, dari umur-umur Pak Luhut," kata Budi Gunadi.

Dalam kesempatan yang sama, Kepala Dinas Kesehatan Provinsi Bali dr Ketut Suarjaya menambahkan, dilihat dari skemanya, vaksin COVID-19 booster diharapkan biayanya secara mandiri oleh masyarakat.

"Kecuali penerima bantuan iuran BPJS Kesehatan, itu artinya berasal dari kelompok masyarakat kurang mampu. Rencananya seperti itu, nanti kami kan lihat juknisnya lagi. Juknisnya belum keluar kok," ucapnya.

Menurut Suarjaya, setelah nanti ada petunjuk teknisnya (juknis), baru bisa dilihat daerah atau kelompok masyarakat mana yang bisa mendapatkan prioritas vaksin COVID-19. [detik]

Selasa, 30 November 2021

Dokter Afrika Selatan Sebut Pasien Varian Omicron Miliki Gejala Sangat Ringan, Dapat Dirawat di Rumah

Dokter Afrika Selatan Sebut Pasien Varian Omicron Miliki Gejala Sangat Ringan, Dapat Dirawat di Rumah

CMBC Indonesia - Seorang dokter Afrika Selatan yang merupakan salah satu yang pertama mencurigai jenis virus corona yang berbeda di antara pasien, mengatakan pada Hari Minggu gejala varian Omicron sejauh ini ringan dan dapat dirawat di rumah.

Dr Angelique Coetzee, seorang praktisi swasta dan ketua Asosiasi Medis Afrika Selatan mengatakan kepada Reuters, pada 18 November dia melihat tujuh pasien di kliniknya yang memiliki gejala yang berbeda dari varian Delta yang dominan, meskipun "sangat ringan".

Sekarang disebut Omicron oleh Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), varian itu terdeteksi dan diumumkan oleh Institut Nasional Penyakit Menular (NICD) Afrika Selatan pada 25 November dari sampel yang diambil di laboratorium pada 14 November hingga 16 November.

Coetzee mengatakan, seorang pasien pada 18 November melaporkan di kliniknya "sangat lelah" selama dua hari dengan nyeri tubuh dan sakit kepala.

"Gejala pada tahap itu sangat terkait dengan infeksi virus normal. Dan karena kami belum melihat COVID-19 selama delapan hingga 10 minggu terakhir, kami memutuskan untuk melakukan tes," katanya, seraya menambahkan bahwa pasien dan keluarganya ternyata menjadi positif, mengutip Reuters 29 November.

Pada hari yang sama, lebih banyak pasien datang dengan gejala yang sama, saat itulah dia menyadari ada "sesuatu yang lain terjadi." Sejak itu, dia melihat dua hingga tiga pasien setiap hari.

"Kami telah melihat banyak pasien Delta selama gelombang ketiga. Dan ini tidak sesuai dengan gambaran klinis," terangnya, seraya menambahkan dia memberi tahu NICD pada hari yang sama dengan hasil klinisnya.

"Sebagian besar dari mereka melihat gejala yang sangat, sangat ringan dan sejauh ini tidak ada yang menerima pasien untuk operasi. Kami telah dapat merawat pasien ini secara konservatif di rumah," paparnya.

Coetzee, yang juga di Komite Penasihat Menteri untuk Vaksin, mengatakan tidak seperti Delta sejauh ini, pasien belum melaporkan kehilangan penciuman atau rasa dan tidak ada penurunan besar dalam kadar oksigen dengan varian baru.

Pengalamannya sejauh ini, varian tersebut mempengaruhi orang yang berusia 40 tahun atau lebih muda. Hampir setengah dari pasien dengan gejala Omicron yang dirawatnya tidak divaksinasi.

"Keluhan klinis yang paling dominan adalah kelelahan yang parah selama satu atau dua hari. Dengan mereka, sakit kepala dan tubuh pegal-pegal," ungkapnya.

Untuk diketahui, berita varian baru yang muncul dari Afrika Selatan memicu reaksi cepat dari beberapa negara, termasuk Inggris, yang pada Hari Jumat memberlakukan larangan perjalanan di beberapa negara Afrika selatan dengan segera, sebuah keputusan yang ditentang keras oleh Afrika Selatan.

Sejak Jumat, banyak negara juga telah melarang perjalanan udara ke dan dari Afrika Selatan, termasuk Amerika Serikat, negara-negara Eropa lainnya, dan beberapa negara Asia. [voi]

Duitnya Hilang Misterius, Dokter Boyke Ungkap Cara Mengusir Tuyul: Taruh Bulu Sehelai

Duitnya Hilang Misterius, Dokter Boyke Ungkap Cara Mengusir Tuyul: Taruh Bulu Sehelai

CMBC Indonesia - Seksolog sekaligus dokter kondang, Boyke Dian Nugroho mengungkapkan pengalaman mistis yang pernah dialami di mana dia berurusan dengan makhluk gaib tuyul.

Dokter Boyke mengungkapkan bahwa kejadian itu sebenarnya sudah lama dia alami tepatnya sekitar tahun 1980-an.

Awalnya Dokter Boyke mengaku tak mempercayai hal-hal yang berbau gaib. Namun lantaran ketika dia berdinas di Lampung dan mengalami berbagai kejadian tak masuk di akal, dua pun mulai mempercayainya.

“Jadi semenjak di sana saya percaya kalau di luar sana banyak hal yang memang tidak bisa dilihat oleh kasat mata. Keilmuan itu tidak hanya dipegang oleh dokter, ada hal-hal di luar nalar kita,” kata Dokter Boyke dalam acara E-Talkshow, dikutip Hops.id pada Senin, 29 November 2021.

Pengalaman pribadi melihat tuyul

Kemudian tak lama setelah kejadian tersebut, dia pun kembali mendapat pengalaman gaib saat uangnya dicuri tuyul.

“Itu juga ada ya, yang namanya tuyul tadinya saya enggak percaya, tapi itu saya juga diajarin untuk bisa melihat,” ujar Dokter Boyke.

Dia pun mengisahkan peristiwa menyeramkan itu terjadi ketika dia mengumpulkan uang, namun entah mengapa tabungannya justru selalu berkurang.

“Jadi uang saya kalau dulu berobat di rumah pakai uang seribuan, setiap dapat sepuluh ribu saya ikat pakai karet dan taruh di Bank Pembangunan Daerah Lampung. Setiap ikatan itu ternyata saya hitung kok tinggal delapan atau tujuh, kok bisa begitu kan saya heran,” ungkapnya.

Dokter Boyke pun memutuskan untuk mengganti kunci lemarinya hingga mendatangi seorang ustaz.

“Saya ganti kunci lemarinya masih juga begitu. Saya ke tempat ustaz, dia bilang itu diambil tuyul. Waktu itu saya enggak percaya, mana mungkin bisa gitu kan,” jelasnya.

Cara ampuh mengusir tuyul

Si ustaz pun meminta agar Dokter Boyke mengikuti sejumlah ritual, di antaranya membawa surah Al-Jinn sembari menemaninya tertidur.

Kemudian secara mengejutkan dia mengaku diperlihatkan oleh sosok tuyul yang menggondol tabungannya.

“Saya disuruh baca surah Al-Jinn, terus saya ditungguin sama dia sambil tidur. Saya lihat banget itu tuyul bagaimana caranya mengambil uang saya. Dia naik ke atas koper saya kemudian turun membawa uang. Tapi itu di antara tidur apa enggak,” jelas Dokter Boyke.

Lebih lanjut alumni Universitas Indonesia (UI) ini mengungkapkan cara yang dilakukan agar tuyul tidak mengambil uangnya lagi, yakni dengan menaruh bulu kemaluan.

“Terus tau enggak cara menghilangkannya bagaimana? Cuma dikasih di tempat uang saya itu, mohon maaf ya ini bukannya jorok, bulu kemaluan taruh sehelai. Dan benar enggak ada kejadian hilang-hilang lagi,” imbuhnya. [hops]

Sabtu, 27 November 2021

Varian Delta Bermutasi Sampai Punah, Gejala Aneh Penyebab Kasus Anjlok di Jepang?

Varian Delta Bermutasi Sampai Punah, Gejala Aneh Penyebab Kasus Anjlok di Jepang?

CMBC Indonesia - Bulan Agustus lalu, Jepang dilanda gelombang kelima dan terbesar virus corona sejak awal pandemi tahun lalu. Ketika itu, angka kasus positif tercatat lebih dari 26.000 per hari, empat kali lipat lebih tinggi dibandingkan sebelumnya.

Lonjakan kasus ini terjadi karena varian Delta yang melanda seluruh dunia, termasuk Jepang.

Namun bulan itu ternyata menjadi titik balik bagi negara Sakura itu. Dalam waktu dua bulan dari puncak gelombang itu, kasus rata-rata saat ini di bawah 100 per hari.

Para ilmuwan mengetahui bahwa kenaikan tajam kasus Covid-19 karena varian Delta, namun mereka masih belum paham mengapa kasus turun tajam sementara negara-negara lain masih terus berjuang menghadapi kenaikan kasus.

Para peneliti dari Institut Genetika Jepang, mengatakan varian Delta kemungkinan bermutasi sendiri sampai menjadi punah di Jepang.

Menurut Ituro Inoue dan koleganya dari Institut Genetika kepada Japan Times, virus itu bermutasi sedemikian rupa sehingga terjadi kesalahan dalam genetika sampai tidak lagi bereplikasi.

"Kami benar-benar terkejut dengan temuan ini," kata Inoue.

Sejumlah penyebab

Ada beberapa hipotesa di balik anjloknya kasus di tengah penyebaran varian Delta ini.

Lebih dari 75% penduduk telah divaksin di Jepang sementara protokol kesehatan seperti jaga jarak dan penggunaan masker diikuti secara tertib oleh masyarakat, menurut laporan media setempat.

Namun negara-negara lain yang melakukan protokol yang sama tetap mencatat kenaikan kasus Covid.

Di Spanyol, misalnya, 80% penduduk telah mendapat vaksinasi penuh dan masker juga tetap dipakai di tempat-tempat tertutup.

Namun Spanyol mencatat sekitar 7.000 kasus per hari.

Perbandingan inilah yang membuat para ilmuwan Jepang menyimpulkan bahwa varian Delta "bermutasi sampai punah".

"Varian Delta sangat menular di Jepang dibandingkan dengan varian lain. Namun di tengah akumulasi ini, kami yakin varian ini tak bisa lagi bermutasi," kata Ituro Inoue.

"Dengan melihat bahwa kasus tak lagi naik, kami percaya pada proses mutasi ini, virus itu langsung mengarah ke punah dengan sendirinya," tambahnya.

Teori Inoue ini memberikan sedikit gambaran mengapa varian Delta di Jepang tiba-tiba hilang.

Pertimbangan ini juga dilihat berdasarkan apa yang terjadi di negara-negara Barat dengan tingkat vaksinasi cukup tinggi, namun harus menerapkan karantina.

Namun kasus di Jepang ini unik karena kasus Covid benar-benar anjlok walaupun transportasi umum seperti kereta dan restoran penuh sejak kondisi darurat berakhir Oktober lalu.

Proses biasa

Berbagai varian Covid hilang dengan sendirinya setelah melanda sejumlah negara.

"Ini terjadi selalu pada virus yang melanda hewan dan manusia, Perlu diingat bahwa varian alpha, beta dan gamma sebagian besar tergantikan oleh varian Delta," kata pakar virus Julian Tang, dari Universitas Leicester, Inggris kepada BBC Mundo.

"Mungkin ada imunitas penduduk Jepang yang menyebabkan perubahan reaksi virus. Suatu saat nanti, kita akan perhatikan apa yang terjadi negara lain juga," tambah Tang.

Studi sebelumnya menunjukkan bahwa lebih banyak orang di Asia yang memiliki sistem ketahanan enzim yang disebut APOBEC3A yang menyerang berbagai virus berbeda, termasuk virus corona yang menyebabkan Covid-19. Ketahanan ini berbeda dengan warga di Afrika dan Eropa.

Dengan cara ini, para peneliti dari Insitut Genetika Jepang dan Universitas Niigata mempelajari apakah enzim ini menghentikan aktivitas virus corona.

Tim membandingkan data genetika berbeda untuk varian Delta dan Alpha dalam sampel klinis di Jepang antara Juni dan Oktober.

Selama studi itu, para ilmuwan meneliti mutasi virus yang tampak berhenti saat berkembang, dan tak aktif lagi, sehingga virus berhenti bereplikasi.

"Mereka menemukan mutasi pada protein nsp14, yang terkait dengan perubahan dalam replikasi. Bila lebih banyak mutasi terjadi dalam protein ini, maka virus dapat menjadi tidak aktif," kata Profesor Jose Manuel Bautista, pakar biologi molekuler Universitas Madrid di Spanyol.

Walaupun Bautista yakin bahwa penurunan kasus juga terbantu faktor lain seperti tingginya angka vaksinasi dan protokol kesehatan, anjloknya penularan di Jepang merupakan sesuatu yang menonjol.

"Turunnya kasus cukup dramatis dan menunjukkan bahwa teori varian ini rusak dengan sendirinya, mungkin terjadi," tambah Bautista.

Walaupun ada penurunan tajam kasus Covid-19 di Jepang, para ilmuwan tetap berhati-hati dan menghindar membuat diagnosa apa yang mungkin terjadi di masa depan.

Pandemi virus corona secara konstan berevolusi dan menunjukkan bahwa walaupun program vaksinasi dan protokol kesehatan diterapkan, dunia masih belum aman dari pandemi baru ini. []

Siti Fadilah: Saya Takut, Omongan Bill Gates Banyak Benarnya, Dia Bisa Mengatur Segalanya

Siti Fadilah: Saya Takut, Omongan Bill Gates Banyak Benarnya, Dia Bisa Mengatur Segalanya

CMBC Indonesia - Eks Menkes Siti Fadilah Supari tiba-tiba dimintai pendapatnya tentang sosok tokoh bisnis dunia Bill Gates. Hal itu ditanyakan oleh Tokoh Jurnalis RI Karni Ilyas dalam saluran Youtubenya dengan tema covid yang tiba-tiba menghilang.

Awalnya, Karni Ilyas sempat menyinggung mengapa covid bisa hilang. Dan dia menjawab bukan karena vaksin. Siti bahkan menduga bahwa covid adalah rekayasa hasil kejahatan terorisme.

Dalam kesempatan itu, beliau lantas menyinggung soal kesalahan penggunaan PCR di Tanah Air. “Apa guna PCR dan swab antigen sih?” kata Karni Ilyas, dikutip Hops.id, Jumat 26 November 2021.

Menurut Siti, ada kesalahan pemahaman soal PCR di Tanah Air. Sejatinya diagnosa awal harus dilakukan oleh dokter. Jika orang-orang yang diketahui memiliki gejala dan tanda-tanda, baru PCR digunakan untuk mengkonfirmasi.

“Jadi PCR itu di ujung. Jadi bukan PCR yang mendiagnosa, inilah kesalahannya. Harusnya digunakan untuk orang yang punya gejala. Bukan orang sehat dikejar-kejar untuk PCR. Ini malah tempat wisata yang didatangi orang segar bugar malah dikejar-kejar PCR,” kata Siti.

Pada kesempatan itu, Siti Fadilah lantas mulai ditanya soal sosok Bill Gates. Dia lantas menyinggung bahwa pada 2015 lalu, di Davos, beliau melontarkan pidatonya bahwa akan ada pandemi yang sangat dahsyat tak lama lagi.

Gates lalu meminta agar negara-negara di dunia harus sama-sama mengumpulkan uang untuk membuat vaksin. Dan terbukti, kata dia, pada 2020 muncul pandemi dahsyat di mana peran vaksin sangat menonjol di seluruh dunia.

“Beliau peramal ulung. Dia bahkan bilang ke depan akan ada gelombang tiga, yang nantinya akan mirip seperti cacar. Waduh saya langsung bingung, kalau cacar ya bagaimana,” kata dia takjub usai membaca dari sebuah media online kenamaan Tanah Air.

Dirinya juga kemudian dibuat takjub dengan kemunculan berita, bahwa FBI belum lama ini menemukan satu kontainer virus cacar di dalam botol. Di mana, laporan menyebut barang-barang itu merupakan milik salah satu perusahaan farmasi.

Dari sana, Siti mengaku kembali takut, karena jangan-jangan gelombang tiba berbentuk cacar ini memang di depan mata, dan dilakukan oleh aksi-aksi rekayasa.

“Sebab bisa saja mereka beralasan itu untuk bikin vaksin, kan bisa saja bilang begitu. Jadi saya yakin (covid) direkayasa. Mudah-mudahan dengan ditemukannya oleh FBI, tak jadi,” katanya.

Siti Fadilah lagi-lagi menyinggung Bill Gates. Menurutnya, tiap apa yang disampaikan perlu diperhatikan dengan seksama, karena lebih banyak benarnya.

“Jujur, kalau yang ngomong dia terus terang saya takut, karena banyak benarnya. Karena dia bisa mengatur segalanya, karena kecerdasannya dan dan kekayaannya. Dan dia ada di situ.”

“Ramalannya selalu berdasar, bukan ngawur. Makanya, tiap apapun yang keluar dari mulut dia, pantas untuk diperhatikan atau dicermati,” kata Siti Fadilah soal Bill Gates. [hops]

Jumat, 26 November 2021

126 Hari Pandemi di RI Terkendali, Luhut: Namun Ini Belum Selesai

126 Hari Pandemi di RI Terkendali, Luhut: Namun Ini Belum Selesai

CMBC Indonesia - Membahas soal Covid-19 di Indonesia, Menteri Koordinator  Bidang Kemaritiman dan Investasi (Menko Marves) Luhut Binsar Pandjaitan mengatakan sudah lebih dari 126 hari pandemi di Tanah Air benar-benar terkendali.

Walau begitu, Luhut menyebut kalau pandemi belumlah usai.

"Kita perlu catat sekarang sudah sekitar 126 hari dan Covid-19 betul-betul terkendali. Namun ini belum selesai," kata Luhut, dikutip Jumat (26/11).

Menjelang Nataru, Luhut mengatakan kepada semua elemen untuk tetap disiplin dan hati-hati. Sejalan dengan hal itu, ia mengatakan pemerintah akan mengambil pendekatan yang sangat hati-hati saat menghadapi momen Nataru.

Sebab, saat Nataru tahun lalu, tercatat terjadi lonjakan mobilitas yang kemudian berdampak pada pertambahan kasus.

"Pendekatan yang hati-hati juga dimaksudkan untuk memberi waktu bagi tingkat vaksinasi masyarakat agar dapat mencapai tingkat yang lebih tinggi," katanya.

"Seperti targetkan vaksinasi dosis 1 dapat mencapai 80 persen dan vaksinasi dosis 2 dapat mencapai 60 persen pada akhir tahun," sambungnya.

Lebih lanjut, Luhut mengaku yakin jika pandemi Covid-19 akan tetap terkendali di 2022, sebab akan ada obat Covid-19 yang akan mulai diedarkan.

"Di samping itu, kita melihat obat covid ini semakin maju, dan ini saya pikir langkah yang dilakukan agresif oleh Indonesia dalam bidang kesehatan," ujar Luhut. [indozone]

WHO: Vaksinasi Selamatkan Nyawa, Namun Tidak Sepenuhnya Cegah Penularan

WHO: Vaksinasi Selamatkan Nyawa, Namun Tidak Sepenuhnya Cegah Penularan

CMBC Indonesia -  Sudah 2 tahun dunia telah dihadapkan dengan virus Corona. Direktur Jenderal World Health Organization (WHO), Tedros Adhanom pun turut mengingatkan jika pandemi belumlah usai.

Vaksinasi merupakan salah satu cara untuk mencegah penularan Covid-19. Namun meski telah mendapatkan vaksinasi lengkap, bukan berarti tubuh telah sepenuhnya kebal dari infeksi virus Corona.

Tedros Adhanom masih menemukan banyak orang yang berpikir bahwa jika sudah menerima vaksinasi lengkap, maka ia sepenuhnya akan kebal dari Covid-19.

Tapi ternyata, itu adalah pemikiran yang salah. Kebanyakan dari mereka berpikir bahwa saat sudah divaksin, tidak diperlukan lagi menerapkan pencegahan lainnya.

"Kami khawatir tentang rasa aman palsu dari vaksin. Orang-orang ini berpikir ketika sudah divaksinasi tidak perlu melakukan tindakan pencegahan lainnya," ujar Tedros kepada awak media, Kamis (25/11).

"Vaksinasi menyelamatkan nyawa tapi tidak sepenuhnya mencegah penularan," sambungnya.

Tedros pun mengingatkan untuk tetap melakukan pencegahan meski telah menerima vaksinasi.

"Sesudah divaksinasi, lanjutkan dengan upaya pencegahan. Hal ini mencegah orang lain terinfeksi dan mencegah orang lain meninggal karena penyakit ini," ujarnya. [indozone]

Covid Tiba-tiba Lenyap, Siti Fadilah Ungkap Keanehan: Bukan karena Vaksin

Covid Tiba-tiba Lenyap, Siti Fadilah Ungkap Keanehan: Bukan karena Vaksin

CMBC Indonesia - Eks Menteri Kesehatan Siti Fadilah Supari mencium keanehan di balik fenomena hilang-nya covid saat ini di sebagian negara termasuk Indonesia. Sebab hal itu memang betul-betul dianggapnya mengherankan.

Senada dengan Indonesia, covid juga hilang di Jepang. Jika Indonesia belum melakukan penelitian apa pun, di Jepang, kata dia, kini justru tengah disibukkan dengan beberapa penelitian. Para tenaga ahli kesehatan di sana juga merasa janggal, mengapa kok tiba-tiba bisa hilang.

“Memang demikian, kenapa kok tiba-tiba hilang. Sekarang di Jepang mereka sibuk sekali untuk meneliti apakah covid lenyap karena banyaknya melakukan mutasi atau karena teori lain,” katanya di saluran Youtube Karni Ilyas, dikutip Hops.id, Kamis 25 November 2021.

Sejauh ini, Indonesia baru memperkirakan meredanya covid di Tanah Air karena herd imunity yang meluas. Atau karena penetapan PPKM, atau bahkan virus yang memang terlalu banyak bermutasi. Tetapi Indonesia hingga kini belum melakukan penelitian apapun secara mendalam.

Siti Fadilah Supari lalu menyatakan sangat ragu jika covid hilang karena efek dari vaksin. Sebab Eropa yang mengalami lonjakan ketiga, tingkat vaksinasinya sudah sangat tinggi. Bahkan sudah 80-90 persen warga di sana sudah disuntik vaksin.

“Kalau karena vaksin, Eropa enggak akan meledak. Jangan salah, Eropa sudah habis-habisan. Jadi kemungkinan soal vaksin sudah terjawab, covid lenyap bukan karena vaksin,” katanya.

Siti Fadilah Supari lalu menyinggung bagaimana adanya ramalan yang menyebut Indonesia bisa jadi akan dihantam gelombang ketiga covid pada Desember mendatang. Tetapi, pakar epidemiolog saja menyatakan belum mengarah pada kesimpulan itu.

Maka itu dia menyayangkan jika Pemerintah berencana menetapkan status PPKM level 3 pada sejumlah daerah di Indonesia akhir tahun.

“Ramalan orang-orang berilmu dan berpikiran sehat tentu harus berdasarkan data. Dan menurut Dr Pandu Riono, belum ada kemungkinan itu (gelombang ketiga), belum nampak,”

Siti Fadilah Supari pun berharap agar Pemerintah tak gegabah menentukan PPKM level 3 pada akhir tahun, karena akan berdampak besar pada ekonomi rakyat. Terlebih kekhawatiran itu saja belum disampaikan epidemiolog.

Dia kemudian tak merasa aneh jika rencana penerapan PPKM level 3 lalu diidentikan pada upaya Pemerintah menggenjot kembali akses PCR dan swab. Sebab jika Pemerintah takut dengan covid gelombang ketiga, seharusnya sudah bisa belajar dari kasus Juli lalu.

Yakni persiapan soal oksigen agar angka kematian tak kembali besar. Dan bukan malah hanya memberlakukan penerapan PPKM level tiga. Bahkan dia merasa aneh, jika bukan Desember, maka kekhawatiran itu bisa digeser pada Februari 2022 mendatang.

“Lho kok bisa digeser-geser ke Februari, untuk apa, untuk yang mengerti tentu ini sesuatu yang aneh. Apalagi berhentinya covid karena dengan cara tak biasa. Maka jangan aneh pula kalau rakyat curiga kalau Pemerintah menerapkan itu hanya karena sesuatu kepentingan tertentu,” katanya lagi. [hops]

Rabu, 24 November 2021

Ketua IDI: Pandemi Covid-19 Selesai Jika Tak Ada Lonjakan Kasus Pada Desember

Ketua IDI: Pandemi Covid-19 Selesai Jika Tak Ada Lonjakan Kasus Pada Desember

CMBC Indonesia - Ketua Terpilih Pengurus Besar Ikatan Dokter Indonesia (PB IDI) M. Adib Khumaidi memperkirakan pandemi Covid-19 di Indonesia akan selesai jika tidak terjadi gelombang ketiga pasca libur Natal dan Tahun Baru mendatang.

Adib meminta semua pihak untuk tetap menjaga protokol kesehatan dan segera mendapatkan vaksinasi di fasilitas pelayanan kesehatan terdekat agar terlindungi dari ancaman lonjakan kasus Covid-19.

"Itu yang paling penting sekarang, standarnya harus tetap kita pertahankan, jangan mencoba mengurangi standar, tetap jalankan, sampai kapan? kita berharap parameter Desember dan Januari ini kalau tidak ada lonjakan kasus positif dan pasien yang dirawat mudah-mudahan kita bisa selesai dengan pandemi Covid-19," kata Adib dalam diskusi FMB9-KPCPEN, Selasa (23/11/2021).

Dia menyebut pengetatan mobilitas dan kegiatan masyarakat pada libur Nataru nanti sangat penting dilakukan agar tidak mengulangi kesalahan yang sama pada libur panjang sebelumnya yang menyebabkan gelombang pertama dan kedua Covid-19.

"Satgas Covid-19 masih bekerja menyampaikan ke tempat publik tempat wisata, kita harus tetap tegas terhadap protokol kesehatan, sekarang sudah ada aplikasi pedulilindungi, kartu vaksin, dan persyaratan perjalanan, termasuk yang paling penting di tempat itu benar-benar harus menjaga prokes," tegasnya.

"Kalau ini dijalankan dengan baik, maka potensi lonjakan kasus gelombang ketiga ini mungkin jangan sampai terjadi di Indonesia," sambung Adib.

Diketahui, Pemerintah akan memberlakukan kebijakan PPKM Level 3 di semua wilayah Indonesia mulai 24 Desember 2021 hingga 2 Januari 2022.

Beberapa strategi kebijakan di antaranya:

1. Larangan cuti atau libur bagi ASN, TNI, Polri, karyawan BUMN maupun swasta selama libur akhir tahun;

2. Pembatasan pergerakan masyarakat dari satu tempat ke tempat lain.
Nantinya penyesuaian syarat bepergian akan diatur dalam Surat
Edaran Satgas maupun Kementerian Perhubungan;

3. Pengetatan penerapan protokol kesehatan pada kegiatan masyarakat di seluruh fasilitas publik;

4. Pengawasan penerapan kebijakan pengendalian sampai ke tingkat komunitas beserta pendisiplinan di lapangan secara langsung. [suara]

Selasa, 16 November 2021

Muncul Anak Varian Delta di Indonesia, Menkes: Cucunya Belum Masuk

Muncul Anak Varian Delta di Indonesia, Menkes: Cucunya Belum Masuk

CMBC Indonesia - Virus Covid-19 varian delta kembali bermutasi dan menyebar dengan kode mutasi baru yang diregistrasi dengan nama AY 4.2.

Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin menyampaikan, saat ini varian baru virus Covid-19 telah muncul di Indonesia. Namun, sub varian baru atau cucu dari varian delta bernama AY 4.2 belum masuk Indonesia.

Dia mengungkapkan, saat ini cucu varian delta tersebut tengah menyebar di Inggris.

Hal itu disampaikan Budi Gunadi Sadikin dalam menyampaikan perkembangan terkini kasus pandemi Covid-19 di Indonesia secara hybrid, bersama Menko Perekonomian Airlangga Hartarto, Senin sore (15/11).

"Jadi intuk yang varian baru memang varian delta itu kan kodenya B.1.617.2 nah itu sudah punya anak, anaknya itu depannya pakai AY 4 ada AY 23, ada AY 24," ujar Budi.

Diterangkan mantan Wakil Menteri Badan Usaha Milik Negara (BUMN) ini, varian delta yang terbanyak menyebar di Indonesia adalah anaknya, atau sub variannya AY 23.

Di Indonesia sendiri, lanjut Budi, varian baru dengan kode AY 4 sudah muncul, kemudian AY 23 dan sudah ada AY 24. Namun secara prinsip mutasi, Budi menuturkan bahwa semua varian delta memiliki mutasi genetik yang mirip.

Namun Budi berkesimpulan, pemerintah meyakini hingga sekarang Indonesia memiliki kekebalan yang cukup untuk mencegah fatality rate dari subvarian delta.

"Kalau misalnya masuk anaknya atau cucunya, insya Allah, harusnya kekebalan yang sudah terbentuk di masyarakat kita masih cukup untuk bisa menanggulangi penyebaran ini,” demikian Budi. [rmol]

Minggu, 14 November 2021

Moeldoko: Jika Januari Ada Ledakan Covid-19, Nanti Ada Perubahan Strategi

Moeldoko: Jika Januari Ada Ledakan Covid-19, Nanti Ada Perubahan Strategi

CMBC Indonesia -  Upaya kewaspadaan tengah dilakukan pemerintah pusat jelang libur akhir natal dan tahun baru (nataru) mengantisipasi peningkatan Covid-19. Hal ini disampaikan Kepala Staf Kepresidenan (KSP) Moeldoko, saat media gathering di Kota Malang, pada Jumat (12/11/2021).

Apalagi dikatakan Moeldoko, masyarakat mulai abai menerapkan protokol kesehatan (prokes) di beberapa kasus. “Ada mungkin masyarakat mulai abai protokol kesehatan,” kata Moeldoko.

Pihaknya mengungkapkan, bila pemerintah tengah berupaya menjadikan libur natal dan tahun baru percontohan, agar penanganan Covid-19 bisa tertangani dan dapat dikendalikan.

“Karena memang kita waspadai pada Natal dan Tahun Baru. Natal dan Tahun Baru ini sebagai uji coba," kata Moeldoko.

Pria berusia 64 tahun ini menerangkan, langkah strategis telah disiapkan pemerintah pusat bila terjadi peningkatan kasus terkonfirmasi positif Covid-19 pasca libur natal dan tahun baru. Namu, dirinya berharap agar hal itu tidak terjadi, caranya dengan penerapan protokol kesehatan yang ketat oleh masyarakat.

"Nanti kalau kira-kira Januari minggu kedua minggu ketiga terjadi ledakan mungkin akan dilakukan perubahan-perubahan strategi," katanya.

Oleh karena itu, masyarakat diharapkan tidak merespon secara berlebihan momen libur akhir tahun ini, karena hingga saat ini pandemi penyakit akibat penyebaran virus yang pertama kali merebak di Wuhan, China itu belum selesai.

Pemerintah telah mengambil langkah menghapus cuti bersama pada 24 Desember 2021. Keputusan itu sesuai dengan Surat Keputusan Bersama (SKB) Tiga Menteri Nomor 712 Tahun 2021, Nomor 1 Tahun 2021 dan Nomor 2 Tahun 2021 Tentang Hari Libur Nasional dan Cuti Bersama 2021.

"Tetap kita betul-betul khawatir terkait Natal dan Tahun Baru ini, jangan sampai terlalu berlebihan. Jika euforia berlebih, dan (kasus) tinggi lagi akan repot. Jadi lebih pada upaya untuk mengerem," katanya.

Dengan kondisi tersebut, Moeldoko menambahkan pemerintah juga tetap menerapkan pembatasan jumlah kunjungan wisatawan di destinasi wisata yang ada di Indonesia. Pembatasan jumlah wisatawan itu, bertujuan agar tidak terjadi kerumunan.

Pembatasan jumlah kunjungan wisatawan pada tiap destinasi wisata tersebut disesuaikan dengan tiap-tiap level pada penerapan pemberlakuan pembatasan kegiatan masyarakat (PPKM) yang dikeluarkan oleh Kementerian Dalam Negeri.
Berdasarkan catatan, hingga saat ini di Indonesia tercatat secara keseluruhan ada sebanyak 4.249.758 kasus konfirmasi positi COVID-19. Dari total tersebut, sebanayk 4.096.664 orang dilaporkan sembuh, dan 143.608 orang meninggal dunia.

Sementara untuk capaian vaksinasi, secara nasional ada 208.265.720 sasaran vaksinasi di Indonesia. Hingga saat ini, tercatat sebanyak 128.147.345 warga yang telah mendapatkan suntikan dosis pertama, dan 81.711.099 warga untuk dosis kedua. [okz]

Varian Delta Sudah Bermutasi Jadi 25 Anak dan Cucunya, di Indonesia Paling Banyak AY.23 dan AY.4

Varian Delta Sudah Bermutasi Jadi 25 Anak dan Cucunya, di Indonesia Paling Banyak AY.23 dan AY.4

CMBC Indonesia - Menteri Kesehatan (Menkes) Budi Gunadi Sadikin menyampaikan virus Corona varian Delta sudah bermutasi menjadi 25 anak dan cucunya selama pandemi Covid-19.

Hal ini terus diwaspadai untuk mencegah penularan virus Corona.

"Jadi Delta yang asli itu D.1.617.2. Dia sekarang sudah bermutasi menjadi 25 anak dan cucunya. Yang paling banyak di Indonesia adalah AY.23 dan AY.4 ya," kata kata Budi dalam diskusi daring dalam kanal PKS TV pada Sabtu (13/11/2021).

Di Inggris, kata Budi, ada mutasi virus Corona varian Delta baru yang menyebabkan adanya peningkatan kasus penularan. Adapun Delta ini bernama AY.4.2 atau biasa disebut sebagai Delta plus.

"Ini contohnya terjadi di Inggris ya. Jadi di Inggris itu terjadi kenaikan. Karena memang varian baru. Kemudian begitu dia naik gara-gara Delta ternyata kita lihat Deltanya juga sudah bermutasi. Terjadi mutasi juga dari Delta. Yang namanya AY.4.2 atau kemarin disebut oleh Pak Luhut namanya Delta plus," ungkap dia.

Budi menyampaikan adanya varian baru Delta ini cukup mengkhawatirkan. Pemerintah juga berupaya agar virus tersebut tak menyebabkan lonjakan penularan Covid-19.

"Dan ini juga cukup mengkhawatirkan. Jadi selain varian-varian yang benar-benar baru, tapi varian Deltanya sendiri bermutasi dan di Inggris, ini menyebabkan kenaikan seperti ini. Nah, kita juga memonitor bukan hanya varian-varian baru keluar. Kita lihat di Indonesia sendiri varian Deltanya sudah bermutasi. Jadi ini Sat mutasi dari varian Delta," jelasnya.

Karena itu, ia menerangkan pemerintah tengah menjalankan strategi deteksi untuk mencegah virus Corona varian baru itu masuk ke Indonesia.

"Jadi kita selalu monitor sekarang, varian-varian baru apa yang bahaya. Dan kita sudah lihat sekarang monitor dari dekat tiga varian baru. Varian-varian baru yang juga menjadi perhatian WHO. Kita kontrol adalah jangan sampai varian baru ini kalau bisa jangan masuk ke Indonesia dengan memperkuat perbatasan-perbatasan kita," tukasnya.

3 Strategi Pemerintah

Pemerintah melalui Kementerian Kesehatan (Kemenkes) melakukan sejumlah strategi untuk menekan laju penularan Covid-19 di Indonesia. Hal ini sesuai dengan pedoman dari World Health Organization (WHO).

"Bagaimana kita bisa mengurangi laju penularan? strateginya WHO juga sudah share ini ke seluruh negara. Tiga strategi untuk orang sehat, satu strategi yang diarahkan kalau sudah sakit," kata Menteri Kesehatan (Menkes) Budi Gunadi Sadikin dalam diskusi daring dalam kanal PKS TV pada Sabtu (13/11/2021).

Untuk strategi orang sehat, kata Budi, strategi pertama atau perubahan perilaku. 

Strategi ini biasa akrab dengan penjagaan protokol kesehatan atau perilaku memakai masker, menjaga jarak, dan mencuci tangan (3M).

"Perubahan perilaku atau prokes atau 3M. Kembali lagi tujuannya untuk mengurangi laju penularan. 

Misal, kalau kita pakai masker misalnya itu bisa mengurangi 95 persen dari laju penularannya. Sama juga strategi surveillance atau deteksi atau 3T," ungkap dia.

Kemudian, strategi kedua adalah strategi deteksi dini atau strategi surveillance. Strategi ini biasa tes Covid-19 testing, tracing dan treatment.

"Kenapa kita ingin bisa tes cepat karena kita tahu siapa yang tertular dan kita cari kontak eratnya dites lagi supaya tahu dia tertular apa enggak karena kalau sudah tahu dia tertular kita bisa isolasi sehingga kalau diisolasi bisa mengurangi laju penularan," jelasnya.

Kemudian, startegi ketiga adalah strategi vaksinasi. Menurut Budi, vaksinasi memang tidak membuat masyarakat menjadi kebal, akan tetapi bisa meminimalisir penularan dan dampak dari Covid-19.

"Vaksinasi itu tidak membuat kita kebal tapi membuat tubuh kita antibodinya siap. Kalau virusnya masuk sehingga masa infeksius virusnya juga kita bisa menjadi lebih singkat yang tadinya 10 hari tapi karena antibodi tubuh kita baik itu bisa membunuh virusnya dengan cepat virusnya mungkin ada di dalam tubuh kita cuma 3 hari atau 4 hari," terang dia.

Di sisi lain, kata Budi, strategi terakhir adalah strategi perawatan untuk tangani masyarakat yang terlanjur telah tertular Covid-19. Namun, strategi ini hanya bersifat antisipatif terhadap masyarakat yang tertular virus Corona.

"Sebenarnya strategi ini ada strategi yang sudah kepepetlah, sudah terlambat. Karena kita tidak bagus atau tidak siap. Nah, strategi ini namanya perawatan. Jumlah rumah sakitnya ada dokternya, obatnya cukup apa enggak, oksigennya, ventilatornya, dan lain sebagainya. Kalau sudah masuk ke tahap ini sebenarnya sudah terlambat. Yang paling bagus adalah jangan sampai dia sakit. Menjaga orangnya supaya tetap sehat," ungkap dia.

Budi meyakini strategi tersebut telah berhasil mengendalikan angka penularan Covid-19 di Indonesia. Hal itu terlihat dari angka penularan virus yang turun drastis.

"Kita sudah lihat alhamdulillah sudah turun. Baik yang kasus konfirmasi, masuk ke rumah sakit maupun yang kematian. Kalau kasus konfirmasinya kan kita sempat 52 ribu per minggu ya, eh per hari ya, sekarang sudah turun di bawah 400 per hari," tukasnya.[tribunnews]

Selasa, 09 November 2021

Sempat Dihapus, Luhut Kaji Lagi Pemberlakuan Tes PCR untuk Syarat Perjalanan

Sempat Dihapus, Luhut Kaji Lagi Pemberlakuan Tes PCR untuk Syarat Perjalanan


CMBC Indonesia - Pemerintah telah menghapus syarat tes Polymerase Chain Reaction (PCR) untuk penumpang pesawat terbang. Namun, Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman dan Investasi Luhut Binsar Pandjaitan membuka kans syarat tersebut berlaku lagi untuk pelaku perjalanan saat liburan Natal dan tahun baru.

Koordinator PPKM Jawa-Bali itu mengatakan, kebijakan ini diperlukan untuk mengantisipasi pergerakan masyarakat pada periode Nataru. Ini karena libur akhir Desember tahun lalu menyebabkan kenaikan kasus Covid-19.

"Kita sedang mengevaluasi apakah nanti penahanan mobilisasi penduduk akan kita terapkan kembali. Pelaksanaan dari PCR sedang kami kaji," kata Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman dan Investasi Luhut Binsar Pandjaitan dalam konferensi pers virtual, Senin (8/11).

Luhut meminta, masyarakat tidak mempermasalahkan konsistensi pemerintah. Hal ini lantaran, kebijakan dilakukan dengan memperhitungkan pergerakan manusia dan kenaikan kasus corona.

"Kami melihat dengan cermat. Jangan berpikir, kok berubah-ubah," ujar dia.

Apalagi data menunjukkan kenaikan kasus telah terjadi di 43 kabupaten/kota atau 33,6% dari total 128 kabupaten/kota dalam 7 hari terakhir. Selain itu, tren kenaikan kasus terjadi di Jakarta Utara, Timur, Barat, dan Selatan.

Kemudian, penyebaran varian Delta Plus telah ditemukan hingga Malaysia. Mutasi virus itu 15% lebih ganas dibandingkan varian sebelumnya sehingga pemerintah perlu mengantisipasi mobilitas masyarakat. "Jadi taktik kita akan selalu bermuara pada Covid-19," ujar dia.

Pekan lalu, pemerintah menghapus ketentuan kewajiban tes PCR bagi penerbangan Jawa-Bali. Padahal, kewajiban tes PCR tersebut baru diterapkan pada 24 Oktober lalu.

Harga tes juga berubah setidaknya empat kali dari Rp2,5 juta pada awal pandemi kemudian turun Rp900 pada Oktober 2020, kemudian turun menjadi Rp 495-525 ribu pada Agustus 2021 dan terakhir diturunkan ke Rp 275-300 ribu pada 27 Oktober lalu.

Peneliti Indonesia Corruption Watch (ICW) Wana Alamsyah meminta pemerintah lebih terbuka terkait kebijakan PCR. Pasalnya, ada kecurigaan jika bisnis tes PCR menguntungkan pihak-pihak tertentu.

"Masalah kamu sejak awal adalah keterbukaan yang dilakukan pemerintah. Dari tahun lalu, pemerintah gagal memberikan informasi secara transparan ke publik,"tutur Wana, Senin (1/11). (ktd)
© Copyright 2019 cmbcindonesia.com | All Right Reserved