History

Rabu, 03 November 2021

5 Gempa Bumi Terdahsyat, Indonesia Sudah Mengalaminya

5 Gempa Bumi Terdahsyat, Indonesia Sudah Mengalaminya

CMBC Indonesia - Gempa Bumi dikenal sebagai salah satu bencana alam yang paling menakutkan dan merusak di dunia. Kerak Bumi terdiri dari bagian-bagian yang berbeda yang dikenal sebagai lempeng tektonik.

Gempa bergerak bersama seperti gergaji ukir dan terus bergerak dengan kecepatan beberapa sentimeter per tahun, ke arah dan kecepatan yang berbeda.

Menjadi hal yang biasa jika lempengan-lempengan itu meluncur melewati satu sama lain, saling bertabrakan dan menjauh satu sama lain.

Saat pelat terus bergerak ke arah yang berbeda dalam jangka waktu yang lama, gesekan menyebabkan energi menumpuk.

Akhirnya menjadi begitu besar sehingga energi dilepaskan yang menciptakan gelombang kejut atau gempa Bumi. Jika gempa berada di bawah laut, dapat menciptakan serangkaian gelombang besar yang disebut tsunami.

Gempa Bumi terjadi di seluruh dunia setiap hari dengan beberapa yang sangat kecil, mereka hanya dapat dideteksi menggunakan peralatan khusus. Sementara yang lainnya bisa cukup kuat untuk merusak dan menghancurkan kota.

Besarnya gempa seperti itu akan diukur pada skala magnitudo Richter. Berikut daftar gempa Bumi terdahsyat sepanjang sejarah, di mana salah satunya terjadi di Indonesia, seperti dikutip VIVA Tekno dari situs The Sun, Rabu, 3 November 2021:

Gempa Kamchatka, Rusia (1952)

Pada 4 November 1952, pukul 16:58 GMT, gempa bumi besar terjadi di lepas pantai Semenanjung Kamchatka, di timur Rusia. Kekuatannya mencapai 9,0 skala Richter, menghasilkan tsunami besar yang merusak Pasifik dengan gelombang hingga 15 meter. Gempa menyebabkan 10.000-15.000 orang tewas.

Gempa Tohoku (2011)

Pada 11 Maret 2011, pukul 14:46 GMT, terjadi gempa bumi besar di bawah laut di lepas pantai Jepang. Gempa 9,1 SR itu memicu tsunami, menghasilkan gelombang hingga 40,5 meter.

Gelombang menyebar ke daratan sejauh 6 mil dan menyebabkan kerusakan struktural yang luas dan parah di timur laut Jepang. Pada 10 Maret 2015, diumumkan bahwa korban meninggal yang dikonfirmasi sebanyak 15.894, 6.152 luka-luka, dan 2.562 orang hilang.

Gempa Sumatera (2004)

Gempa Sumatera adalah salah satu bencana alam paling mematikan dalam sejarah. Peristiwa ini juga dikenal sebagai gempa bumi Samudra Hindia 2004, pecah di lepas pantai barat Sumatera atau Banda Aceh.

Ini menciptakan panjang patahan terbesar dari setiap gempa yang tercatat, menghasilkan tsunami dengan gelombang setinggi 30 meter. Itu menyebabkan seluruh planet bergetar sebanyak 1 centimeter dan menyebabkan 250 juta jiwa mengalami kematian.

Gempa besar Alaska (1964)

Gempa Bumi Besar Alaska terjadi pada 1964 dikenal sebagai gempa Jumat Agung, terjadi pada pukul 17:36 waktu setempat, pada Jumat Agung, 27 Maret di wilayah Prince William Sound di Alaska, Amerika Serikat.

Itu berlangsung sekitar 4,5 menit dan merupakan gempa paling kuat yang tercatat dalam sejarah Amerika Serikat. Gempa 9,2 SR itu memicu tsunami yang dirasakan di Alaska, Oregon dan California, AS.

Gempa Valdivia (1960)

Ini juga dikenal sebagai gempa besar Chili yang merupakan gempa paling kuat yang pernah tercatat berkekuatan 9,5 skala Richter. Gempa Bumi terjadi pada 22 Mei pukul 19:11 GMT sekitar 100 mil di lepas pantai Chili.

Itu berlangsung sekitar 10 menit dan memicu tsunami besar dengan gelombang hingga 25 meter. Jumlah total korban jiwa akibat gempa Bumi dan tsunami diperkirakan antara 1.000-6.000 jiwa dengan sekitar 3.000 orang terluka.[viva]

Sabtu, 23 Oktober 2021

Kisah Asmara Orangtua Sukarno di Bali, Ternyata Kawin Lari

Kisah Asmara Orangtua Sukarno di Bali, Ternyata Kawin Lari

CMBC Indonesia - KISAH ini diceritakan langsung oleh ibunya kepada Soekarno. Karena tak mendapat restu dari keluarga, ia kawin lari. 

Semasa muda, Idayu Nyoman Rai (ibu Soekarno) seorang gadis Pura di daerah Singaraja, Bali. Saban hari, tiap pagi dan petang, ia membersihkan rumah ibadat itu.  

Ia betul-betul menikmati ketenangan itu. Suatu hari, datanglah seorang pemuda duduk mengaso di lubuk persis di depan Pura. 

Karena teduhnya suasana di lubuk, si pemuda kecanduan. Apalagi pemandangannya asri, khas Bali. Semenjak itu, tiap sore sepulang mengajar, dia mengaso di sana. Candunya kian bertambah-tambah ketika suatu hari melihat Idayu Nyoman Rai di dalam Pura.  

"Setelah sore demi sore berlalu, ia menegur ibu sedikit. Ibu menjawab," Soekarno menceritakan itu dalam buku Bung Karno Penyambung Lidah Rakyat Indonesia karya Cindy Adams.  

Pemuda itu bernama Raden Sukemi Sosrodihardjo. Berasal dari Jawa. Keturunan Kediri. Bekerja sebagai guru Sekolah Rendah Gubernemen di Singaraja. 

"Segera ia merasa tertarik kepada ibu dan ibu kepadanya," kenang Si Bung. "Seperti biasanya menurut adat, bepak mendatangi orang tua ibu untuk meminta ibu secara beradat." 

Rupanya pinta tak berlaku. Keluarga Idayu Nyoman Rai yang notabene dari kaum bangsawan tegas mengatakan, "tidak bisa. Engkau berasal dari Jawa dan engkau beragama Islam. Tidak, sekali-kali tidak!"

Apa boleh buat. Muda-mudi itu sudah terlanjur saling cinta. "Satu-satunya jalan kawin lari. Ini pun bagi adat Bali ada tata-caranya," ungkap Soekarno, menceritakan lagi kisah cinta orang tuanya.

Di malam perkawinan, keduanya bermalam di rumah seorang kawan. Lalu dikirim utusan ke rumah orang tua si gadis guna memberitahu bahwa mereka sudah melangsungkan perkawinan. 

Ini di Bali istilahnya pawiwahan. Gandarwa wiwaha. Di beberapa daerah semisal di Lampung dan Lombok, budaya kawin lari juga ada dalam istilah berbeda. 

Idayu dan Raden Sukemi bermalam di rumah seorang kepala polisi. Ketika keluarga Idayu datang menjemput, kepala polisi yang merupakan kawan dekat Raden Sukemi itu enggan melepaskan dengan alasan kedua merpati itu berada dalam perlindungannya.

"Mereka pun dihadapkan ke pengadilan. Ibu ditanya, apakah lelaki ini memaksamu, bertentangan dengan kemauanmu sendiri? Dan ibu menjawab, tidak. Tidak, saya mencintainya dan melarikan diri atas kemauan saya sendiri."

Tak ada lagi perkara. Perkawinan diteruskan. Pun demikian, pengadilan mendenda Idayu 25 ringgit. 

Pendek kisah, karena merasa tak disukai orang Bali, Raden Sukemi mengajukan permohonan kepada Departemen Pengajaran untuk dipindahkan ke Jawa. 

Ia pun dikirim ke Surabaya. Istrinya dibawa serta. Di kota pelabuhan itulah Soekarno lahir saat fajar menyingsing. Tanggal 6 bulan 6, 1901--permulaan abad 20. 

"Nenekku memberiku kebudayaan Jawa dan mistik. Dari bapak datang Theosofisme dan Islamisme. Dari ibu Hinduisme dan Buddhisme. Sarinah (pengasuh Soekarno--red) memberiku humanisme," kenangnya. [jpnn]

Senin, 18 Oktober 2021

17 Oktober 1952, Saat Para Perwira TNI AD Arahkan Moncong Meriam ke Istana

17 Oktober 1952, Saat Para Perwira TNI AD Arahkan Moncong Meriam ke Istana

CMBC Indonesia - Tanggal 17 Oktober 1952 menjadi salah satu hari bersejarah bagi Indonesia. Perlawanan sejumlah perwira TNI AD terhadap Presiden Soekarno. Mereka mendesak pembubaran parlemen, mereka mengklaim bukan kup atau kudeta terhadap Soekarno.

Sejarah mencatat, ada meriam yang dibawa oleh pasukan tentara Indonesia ditujukan ke istana presiden. Ditambah dengan menggunakan truk-truk tentara, golongan demonstran yang berasal dari luar ibukota diarahkan oleh Seksi Intel Divisi Siliwangi.

Melansir dari repository.uinbanten.ac.id, aksi tersebut dipimpin oleh Letnan Kolonel Kemal Idris. Ia memimpin pasukan yang membawa tank dan meriam menampakkan diri di lapangan merdeka. Beberapa diantara mocong meriam tersebut bahkan diarahkan ke istana presiden.

Meskipun tidak mendapatkan hak dan kekuasaan untuk melibatkan pasukannya melakukan pergerakan, nyatanya perwira Siliwangi yang diketahui cenderung ke PSI atau Partai Sosialis Indonesia ini telah dimandatkan untuk “memperlihatkan kekuatan”.

Ketika demonstrasi terjadi, meriam dan senapan mesin yang berada di atas mobil terlihat ditujukan ke arah Presiden Soekarno yang tengah berbicara.

Awalnya demonstrasi tersebut dilakukan oleh sekitar 5000 orang, lalu diperkirakan jumlahnya bertambah menjadi 30.000 orang. Gedung parlemen menjadi tujuan awal aksi demo, kemudian mereka berbondong-bondong menuju istrana presiden guna menyampaikan gugatannya.

Para demonstran menuntut presiden untuk membubarkan DPRS yang ada karena sudah mencampuri urusan militer, lalu menggantikan DPRS dengan yang baru.

Terkait gugatan rakyat tentang pemilihan umum, Presiden Soekarno juga berpendapat bahwa hal itu harus dilaksanakan secepat mungkin. Namun untuk mengadakan pemilihan umum perlu mempersiapkan banyak hal. Akan tetapi untuk tuntutan pembubaran DPRS, Soekarno menolak.

Soekarno beralasan, dengan membubarkan DPRD, akan menjadikan dirinya diktator sebab menyerahkan seluruh otoritas kepada kekuasaan eksekutif dari pemerintahan saja. Menurutnya ini tidak sesuai dengan ideologi negara.

Aksi ini diprakarsai oleh Kolonel Soetoko dan Kolonel S. Parman. Namun yang menjadi koordinator untuk mengatur demonstran dilapangan adalah Kolonel Dr. Mustopo. Diketahui bahwa tidak hanya sebagai Perwira Penghubung Presiden Soekarno, orang nyentrik ini juga merupakan Kepala Dinas Kedokteran Gigi Angkatan Darat, Mayor Kosasih, serta Komando Garnisun Jakarta. [tempo]

Rabu, 06 Oktober 2021

Jenderal M. Jusuf Jadi Panglima ABRI Setelah 14 Tahun Tidak Aktif di Militer

Jenderal M. Jusuf Jadi Panglima ABRI Setelah 14 Tahun Tidak Aktif di Militer

CMBC Indonesia - Pada masa Orde Baru, hampir atau bahkan semua jabatan di negara ini ditentukan oleh Soeharto. Termasuk tentang siapa yang menjadi Panglima ABRI, Angkatan Bersenjata Republik Indonesia.

Termasuk penunjukan Jenderal M Jusuf, jenderal asal Sulawesi Selatan sebagai Panglima ABRI atau dulu sering disingkat Pangab. Siapa yang menduga, 14 tahun tidak memegang tongkat komando dan tak lagi berseragam militer, tiba-tiba saja M Jusuf melesat menjadi Panglima ABRI.

Dan selama 14 tahun tidak aktif dalam militer, ternyata sudah terjadi perubahan cara baris-berbaris. Sehingga, Andi Muhammad Jusuf Amir atau yang dikenal sebagai M. Jusuf atau Jusuf bahkan harus latihan baris berbaris selama tiga hari sebelum pelantikannya.

Kisah mengenai Jenderal M. Jusuf salah satunya tertuang dalam buku Salim Said berjudul "Dari Gestapu ke Reformasi Serangkaian kesaksian". Pangkat terakhir M. Jusuf dalam ABRI adalah Brigadir Jenderal dengan jabatan Panglima Kodam XIV/Hasanuddin. Ia lalu dipromosikan menjadi Menteri Perindustrian Ringan pada 1965 setelah berhasil menumpas pemberontakan Kahar Muzakkar.

Salim Said yang juga pernah menjadi wartawan Tempo itu menulis, jalan M Jusuf menuju Panglima ABRI dimulai saat 1 Oktober 19965 ketika G30S meletus.

Saat itu ia masih berada di Beijing, tapi ia langsung terbang ke Indonesia begitu mendengar kabar kerusuhan. Begitu sampai di Kemayoran, ia tidak segera melapor ke Presiden Soekarno selaku atasannya.

Ia justru pergi ke Komando Cadangan Strategis Angkatan Darat (Kostrad), tempat Soeharto memimpin operasi penumpasan Partai Komunis Indonesia (PKI). Keputusannya itu diduga karena insting politiknya yakin era Soekarno sudah berakhir dan Soeharto-lah yang bakal naik.

M. Jusuf juga turut berperan sebagai king maker. Ia bersama Jenderal Basuki Rahmat dan Jenderal Amir Mahmud mendatangi Soekarno dan mendesaknya untuk mengeluarkan Surat Perintah Sebelas Maret atau Supersemar yang menjadi legitimasi Soeharto menggantikan Soekarno.

Soeharto lantas membalas jasa mereka. Basuki Rahmat ia jadikan sebagai Menteri Dalam Negeri. Tatkala Basuki mendadak wafat, Amir Mahmud menggantikan posisinya. Berbeda dengan keduanya, Soeharto justru menempatkan Jusuf sebagai pemimpin ABRI.

Penjelasan pengangkatan Jusuf menjadi panglima ABRI bisa ditemukan dalam memoar Jusuf Wanandi, "Shades of Grey". Menurut Wanandi, muncul suara-suara kritis terhadap kebijakan Soeharto, terutama mengenai sikap keras kepada mahasiswa, saat rapat para Jenderal di Markas ABRI pada awal 1978.

Ketika itu, Jusuf selaku Menteri Perindutrian tampil sebagai pendukung utama Soeharto maupun kebijakan-kebijakan kerasnya terhadap mahasiswa. Jusuf bahkan mengancam ia akan melawan setiap usaha pelemahan atau bahkan perebutan kekuasaan itu.

Tapi, dengan cara apa Jusuf melawan para jenderal yang kritis terhadap Soeharto? Tak lama setelah Jusuf memperlihatkan kesetiaannya terhadap Soeharto di depan hampir semua Jenderal, Presiden Soeharto lalu mengangkatnya menjadi Panglima ABRI.

Saat menjadi Panglima ABRI, Jenderal M. Jusuf selalu menyampaikan salam dari Soeharto kepada prajurit yang ia temui. Ia juga sosok yang perhatian. Perhatian dan kunjungannya sontak membuatnya populer di mata prajurit maupun masyarakat. [tempo]

Senin, 04 Oktober 2021

Sosok Misterius di Balik Operasi G30S, Siapa Sjam Kamaruzaman?

Sosok Misterius di Balik Operasi G30S, Siapa Sjam Kamaruzaman?

CMBC Indonesia - Sjam Kamaruzaman, tak banyak yang tahu nama itu. Tokoh penting di balik operasi senyap G30S pada Jumat dini hari 1 Oktober 1965. 

Polisi Militer mencatat setidaknya Sjam memiliki lima nama alias, yaitu Djimin, Syamsudin, Ali Mochtar, Ali Sastra, dan Karman. Bahkan saat ia menulis surat untuk adiknya sebelum dieksekusi pada 1986, ia menandatangani surat itu dengan nama Rusman.

Dilansir dari seri buku Tempo berjudul "Sjam Lelaki dengn Lima Alias", namanya mulai dikenal saat ia bersaksi dalam pengadilan Sudisman, Sekretaris Jenderal Partai Komunis Indonesia atau PKI pada Juli 1967. Sjam adalah kepala Biro Chusus PKI, sebuah badan rahasia yang keberadaannya misterius, setengah dipercaya setengah tidak.

"Biro Chusus bertugas mengurusi, memelihara, dan merekrut anggota partai di tubuh Angkatan Bersenjata Republik Indonesia secara ilegal," kata panitera politbiro PKI, Iskandar Subekti, dalam catatannya atas peristiwa 30 September 1965. Sebagai kepala Biro Chusus, Sjam tidak boleh membeberkan identitasya sebagai anggota partai.

Sjam Kamaruzaman sudah seperti intel dalam film, keluarga dan lingkungan sekitarnya hanya mengenal dia sebagai seorang pengusaha pemilik perusahaan genting, bengkel, dan batu kapur. Tapi, sebenarnya ia adalah salah satu anggota PKI yang punya peran besar. Dia juga ikut merencanakan aksi rahasia G30S.

Di dalam penjara, tahanan politik lain bergidik lain setiap kali sesi pemeriksaan datang. Namun, Sjam malah menghadapinya dengan senyuman. Ia memang berhubungan baik dengan aparat militer, bahkan bisa dibilang bagai "teman lama".

Seorang putranya mengenang saat ia megunjungi ayahnya yang di bui. Sjam Kamaruzaman menempati sel yang besar dan diizinkan memiliki uang satu tas penuh untuk memenuhi segala kebutuhannya.

Uang itu disinyalir sebagai harga untuk nyanyiannya kepada para peyidik terkait G30S dan PKI. Di penjara, Sjam bak penguasa yang disegani bahkan ditakuti oleh para tahanan. Para tahanan sipil maupun militer bahkan sering meminta nasihat dan perlindungan kepadanya. Ia juga diperlakukan istimewa, meski ditahan ia bebas keluyuran keluar masuk sel.

Ini untuk mencari siapa tahu ada di antara para tahanan yang merupakan 'tentara binaannya'. Tak heran jika tahanan lain merasa tidak tentram karena nasib mereka bisa ditentukan oleh nyanyian Sjam. Jika Sjam sampai menyebut nama orang, orang itu akan susah nasibnya.

Nyanyian Sjam ini digunakan Tim Pemeriksa Pusat sebaai data inteijen. Kemudiaan data ini dilaporkan kepada Menteri Panglima Angkatan Darat Jenderal Soeharto sekaligus disusun menjadi berita acara untuk penuntutan di Mahkamah Militer Luar Biasa.

Berkat nyayian Sjam Kamaruzaman, PKI disapu bersih. Setelah sembilan belas tahun bernyanyi tentang G30S dan dimusuhi sesama tahanan politik PKI, nyawanya tamat oleh sebuah bedil pada September 1986. [tempo]

Kamis, 30 September 2021

Organisasi-Organisasi yang Dianggap Berafiliasi dengan PKI

Organisasi-Organisasi yang Dianggap Berafiliasi dengan PKI

CMBC Indonesia - Partai Komunis Indonesia (PKI) pernah menjadi salah satu partai terbesar di Indonesia. Anggota PKI pada 1965 dilaporkan mencapai 3 juta orang sehingga menjadikannya sebagai partai komunis terkuat di luar Uni Soviet dan Republik Rakyat Cina (RRC). 

Tokoh-tokoh PKI juga terlibat dalam pendirian sejumlah organisasi di Indonesia pada 1950-an dan menjadi petingginya.

Namun setelah peristiwa G30S, anggota organisasi yang dianggap terkait dengan PKI diburu dan ditangkap.  Berikut beberapa organisasi yang dianggap terkait dengan PKI:

Gerwani 

Gerakan Wanita Indonesia (Gerwani) adalah organisasi wanita yang aktif di Indonesia pada tahun 1950-an dan 1960-an. Gerwani sebelumnya bernama Gerwis (Gerakan Wanita Sedar). Mengutip dari buku Penghancuran Gerakan Perempuan (Politik Seksual di Indonesia Pascakejatuhan PKI) karya Saskia E. Wieringa, Gerwis berubah menjadi Gerwani dalam kongres kedua mereka pada 1954 dan memilih Umi Sardjono, yang juga merupakan anggota PKI, sebagai ketuanya

Lekra

Lembaga Kebudayaan Rakyat atau yang lebih dikenal dengan Lekra berdiri pada 17 Agustus 1950. Lekra digagas oleh sejumlah seniman dan anggota Partai Komunis Indonesia (PKI) seperti A.S. Dharta, M.S. Ashar, Henk Ngantung, Herman Arjuno, Joebaar Ajoeb, Sudharnoto, dan Njoto. Mereka membuat lembaga kesenian yang bertujuan mendukung revolusi dan kebudayaan nasional.

Meski didirikan orang-orang PKI, Lekra merupakan organisasi terbuka dan tidak menjadi bagian dari partai berlambang palu arit itu. Mengutip Majalah Tempo edisi khusus Lekra, keinginan DN Aidit agar Lekra melebur dengan PKI ditolak oleh Njoto, wakilnya di  Central Comite PKI.

Njoto beralasan di tubuh Lekra juga bergabung seniman nonkomunis yang bukan anggota partai, seperti Pramoedya Ananta Toer dan Utuy Tatang Sontani. Menyeret Lekra menjadi organ resmi partai hanya akan menyebabkan para seniman terkenal dan berpengaruh itu hengkang

SOBSI

Sentral Organisasi Buruh Seluruh Indonesia (SOBSI) dibentuk di Indonesia pada 29 November 1946. SOBSI merupakan serikat buruh terbesar yang pernah ada di Indonesia.

SOBSI memiliki hubungan kuat dengan PKI dan sebagian besar pengurusnya adalah aktivis partai tersebut seperti Harjono, Njono, dan Setiadjit Soegondo. SOBSI terlibat pula dalam pemberontakan Madiun 1948.

Pemuda Rakjat 

Organisasi ini mula-mula dibentuk dengan nama Pemuda Sosialis Indonesia (Pesindo). Pertama kali organisasi ini diciptakan atas inisiatif Menteri Pertahanan yakni Amir Sjarifuddin.

Dua tahun setelah pemberontakan PKI Madiun pada 1948, Pesindo berganti nama menjadi Pemuda Rakyat. [tempo]
© Copyright 2019 cmbcindonesia.com | All Right Reserved