Fadjroel Rachman Tak Setuju Istilah Pribumi dan Mayoritas - Channel Media Berita Central Indonesia


Minggu, 09 Februari 2020

Fadjroel Rachman Tak Setuju Istilah Pribumi dan Mayoritas

Fadjroel Rachman Tak Setuju Istilah Pribumi dan Mayoritas



Fadjroel Rachman Tak Setuju Istilah Pribumi dan Mayoritas


CMBC Indonesia - Indonesia terkenal dengan keberagaman. Lewat keberagaman itu dikenal istilah Bhinneka Tunggal Ika. Oleh karena Indonesia lahir dengan corak yang penuh warna, maka istilah mayoritas dan minoritas tidak perlu dilekatkan. Setiap orang yang berkewarganegaraan Indonesia memiliki status, hak, dan kewajiban yang sama.

Pernyataan itu ditegaskan Juru Bicara Presiden, Fadjroel Rachman dalam acara Ngopi Sore serta Pertunjukan Kolaborasi Musik Nusantara pada Jumat (7/2) di Padang, Sumatera Barat. Kegiatan itu merupakan rangkaian Festival Multikultural Cap Go Meh 2020 serta perayaan Imlek 2571 di kota setempat.

"Istilah itu tidak tepat. Salah ketika kita menyebut suatu kelompok itu mayoritas atau minoritas. Selama masih WNI maka seharusnya tidak ada lagi sebutan tersebut," kata Fadjroel.

Menurutnya istilah pribumi dan non-pribumi juga tidak layak disebutkan. Selama seseorang hidup di bumi pertiwi dan masih Warga Negara Indonesia semua dipandang sama. Adapun perbedaan ras, adat, budaya, agama dan lainnya merupakan warisan kekayaan Indonesia yang harus dijaga.

Mantan aktivis reformasi itu menyebutkan setidaknya terdapat lebih dari 700 suku bangsa dan 1.000 lebih bahasa di Indonesia. Data itu membuktikan bahwa Indonesia memiliki kekayaan dengan keberagaman suku dan bahasa yang disatukan dalam ikatan Bhineka Tunggal Ika.

Dengan alasan itu, Fadjroel mengimbau seluruh masyarakat agar menghilangkan kebiasaan istilah mayoritas dan minoritas, atau pribumi dan non-pribumi. Tujuannya untuk melekatkan rasa persatuan, kesatuan, serta mengedepankan rasa memiliki yang sama atas negara Indonesia.

"Marilah kita hilangkan istilah-istilah yang merenggangkan itu, jangan lagi ada perbedaan dengan sekat-sekat kepada kelompok tertentu. Semuanya sama, bahkan setiap orang punya hak jadi presiden, asalkan WNI," tegas Fadjroel.

Pada kesempatan itu, Fadjroel juga sangat mengapresiasi perayaan Cap Go Meh 2020 di Kota Padang. Ia menilai kota dengan semboyan Kota Padang Tercinta, Kujaga dan Kubela ini sangat kental dengan budaya multikultur. Bukan hanya suku Minangkabau, tapi juga Jawa, Batak, Sunda, bahkan etnis Tionghoa, India dan lainnya.

Di kesempatan yang sama, Panitia Cap Go Meh 2020 Padang, Albert Hendra Lukman menuturkan masyarakat Tionghoa melaksanakan Imlek 2571 sejak hari ke-15 awal tahun 2020. Kegiatan ini bukan hanya perayaan bagi etnis Tionghoa, tapi juga sebagai agenda wisata dan hiburan di Kota Padang.

Albert juga menyampaikan, Cap Go Meh bahkan sudah masuk dalam agenda wisata Sumbar setiap sejak tiga tahun terakhir. Kegiatannya mulai dari seminar multikultural, pertunjukan kolaborasi musik, pameran lukisan, kuliner, arakan kio, penampilan barongsai, dan beragam hiburan lainnya.

Semua kegiatan Cap Go Meh sambungnya berlangsung di kawasan Kota Tua Padang hingga di Jembatan Siti Nurbaya. Semua itu jadi bukti adanya harmoni keberagaman masyarakat Kota Padang.

"Semoga kegiatan Cap Go Meh 2020 ini semakin merekatkan kita di Kota Padang, sekaligus menguatkan budaya kita selama ini agar tidak hilang," pungkas politisi PDIP tersebut.(*)




Loading...
loading...

Berita Lainnya

Berita Terkini

© Copyright 2019 cmbcindonesia.com | All Right Reserved